
JAKARTA – (KBKNEWS – (23/6) – ISRAEL dilaporkan telah mengeluarkan arahan resmi kepada pasukannya terkait ruang lingkup pergerakan yang diperbolehkan dan dilarang di wilayah Lebanon.
Berdasarkan laporan media setempat, keputusan terbaru tersebut secara tegas melarang tentara Israel untuk melakukan operasi militer di wilayah-wilayah krusial tertentu.
Wilayah yang harus dihindari untuk operasi militer seperti dilansir Anadolu, Selasa (23/6) a,l. ibu kota Beirut serta distrik Tyre yang terletak di Lebanon selatan.
Pembatasan ini dikabarkan muncul menyusul peringatan keras AS kepada Israel bahwa otorisasi yang sebelumnya mengizinkan Tel Aviv untuk beroperasi tanpa pembatasan di wilayah Lebanon kini telah berakhir.
Seorang pejabat senior Israel yang enggan disebutkan namanya membenarkan adanya pesan diplomatik tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
“Otorisasi sebelumnya untuk tindakan tanpa batas di Lebanon telah berakhir,” ungkap sumber pejabat senior tersebut kepada Channel 13.
Saluran berita tersebut menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump kini mulai memberlakukan pembatasan operasional terhadap Israel.
Pembatasan ini dikabarkan tidak hanya berlaku untuk wilayah Lebanon, melainkan juga merembet ke arena-arena konflik lainnya.
Beda kepentingan AS dan Israel
Sebelumnya, harian terkemuka Israel, Maariv, juga mengonfirmasi adanya benturan perspektif yang nyata antara Washington dan Tel Aviv mengenai perkembangan situasi terkini di Lebanon.
Menurut analisis harian Maariv, Washington menaruh perhatian pada situasi di Lebanon selatan melalui kacamata konteks regional yang jauh lebih luas.
Pemerintah AS mengaitkan konflik ini dengan stabilitas geopolitik di Selat Hormuz, gejolak harga energi dunia, isu nuklir Iran, serta kepentingan Trump untuk segera mengamankan sebuah terobosan diplomatik yang signifikan.
Sebaliknya, Tel Aviv memiliki sudut pandang yang bertolak belakang. Pihak Israel bersikukuh menilai bahwa penarikan pasukan terlalu dini dari wilayah Lebanon selatan dapat ditafsirkan sebagai sebuah “tanda kelemahan” (Israel) di mata internasional dan juga dinilai menjadi sebuah keuntungan atau “hadiah” tersendiri bagi kelompok Hizbullah.
Konflik yang terus membara ini telah membawa dampak kemanusiaan yang sangat masif. Data resmi dari otoritas Lebanon menunjukkan bahwa ofensif militer yang dilancarkan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.000 orang serta melukai lebih dari 12.000 orang lainnya sejak 2 Maret lalu.
Ta dan k hanya itu, eskalasi konflik juga telah memaksa lebih dari satu juta warga sipil mengungsi untuk menyelamatkan diri. Hingga saat ini, militer Israel dilaporkan masih terus menduduki sejumlah kawasan di wilayah Lebanon selatan.
Sejumlah zona di antaranya bahkan telah berada di bawah kendali pasukan pendudukan Israel selama beberapa dekade, sementara itu, wilayah lainnya baru saja direbut dalam operasi perang sepanjang periode 2023 hingga 2024.
Di tengah proses perdamaian yang tengah bergaung di Timur Tengah dengan ditekennya MoU antara AS dan Iran di Versailles, Perancis Rabu lalu (17/6) , keruwetan persoalan yang sudah mengakar puluhan tahun di kawasan itu agaknya perlu diurai satu persatu. (Anadolu/ns)




