BALI – Salah satu pengurus penanganan pengungsi Palestina di Jordania, Syekh Naim Abdullah Sulaiman Abu Shindi berterimakasih kepada Indonesia yang dianggapnya sebagai negara pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan Palestina.
Seperti dilansir Radar Bali, Kamis (16/6/2016) hal tersebut diungkapkan Syekh Naim ketika sedang mengunjung Bali untuk melakukan safari ramadan di sejumlah masjid dalam misi silaturahmi dan dakwah.
“Indonesia dan sejumlah yayasan begitu besar perhatiannya pada pengungsi Palestina, sampai saat ini mereka masih kekurangan pangan dan sandang karena minimnya donasi,” ucapnya berterimakasih.
Menurut Syekh Naim ada sekitar 4 juta pengungsi Palestina yang ditampung di Kamp Pengungsian di kota Irbit, Jordania. Jumlah tersebut merupakan akumulasi pengungsi Palestina di Jordania sejak invasi Israel tahun 1967 silam.
“Mereka belum bisa kembali ke Palestina karena masalah keamanan akibat penjajahan Israel,” ungkapnya.
Begitupun dengan dirinya, Syekh Naim yang juga seorang Imam Masjid Sholahuddin Jordania dan Pimpinan Pusat Tahfidz Quran Ibnul Qoyyim Jordania ini sebetulnya warga Palestina, tapi bermukim di Jordania.
“Saya warga Palestina tapi sementara bermukim di Jordania karena penjajahan oleh Israel,” ungkapnya.
Selain menceritakan mengenai pengungsi Palestina di Jordania, dia juga mengungkapkan adanya perpecahan ditubuh pejuang Palestina yaitu faksi Hamas dan Fatah.
“Tapi tadi malam (kemarin malam, Red) saya mendapat kabar bahwa Hamas dan Fatah akan bersatu untuk sama-sama melanjutkan perjuangan,” tambahnya.
Rencananya, dalam misi dakwah di Bali, Syekh Naim akan menetap selama satu minggu di Pulau Dewata tersebut.





