
NILAI tukar mata uang rupiah terhadap dollar AS sudah melemah hampir 10 persen dari tahun lalu (year on year/yoy) sehingga dikhawatirkan berdampak buruk terhadap perekonomian RI ditambah lagi situasi politik dalam negeri yang juga menghangat.
Bloomberg, mencatat kurs rupiah Rp 16.365 per dollar AS pada pada Rabu, 19 Juni 2024, padahal pada periode sama tahun lalu masih betengger pada Rp 14.995 per dollar AS atau berarti, rupiah sudah melemah sekitar 9,14 persen dalam kurun waktu satu tahun.
“Untuk perekonomian (Indonesia-red) ini tidak baik,” kata pengamat ekonomi senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad dalam “Obrolan Newsroom” Kompas.com, Rabu.
Tauhid mengatakan, dampak pelemahan rupiah terutama bakal dirasakan oleh para pelaku usaha karena naiknya baya produksi seiring dengan meningkatnya harga komoditas dasar impor yang kemudian berpengaruh pada bisnis mereka.
Selain itu, lanjut Tauhid, depresiasi rupiah juga bakal berdampak terhadap biaya pembayaran utang luar negeri yang lebih besar. Bahkan jika depresiasi rupiah mendekati 10 persen dampaknya lebih besar dari tingkat suku bunga acuan yang tinggi.
“Risiko penurunan nilai tukar jauh lebih besar dari risiko perubahan suku bunga ,” ujar Tauhid seraya menabahkan, salah satu dampak depresiasi rupiah yang bakal dirasakan masyarakat ialah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Pasalnya, kurs rupiah merupakan salah satu faktor penentu badan usaha migas dalam menetapkan harga BBM. Oleh karenanya, depresiasi rupiah yang signifikan diproyeksi bakal mengerek harga BBM.
“Ketika nilai tukar rupiah terdepresiasi, katakan 10 persen, harga BBM di POM bensin ikut bergerak naik,” ucap Tauhid.
Menurut catatan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot kian melemah hingga Rabu (19/6) bahkan sempat menembus level Rp 16.300 per dollar AS per dollar AS dan ditutup melemah 0,02 persen ke Rp 16.295 per dollar AS.
Sementara itu, berdasarkan data Bank Indonesia (BI) JISDOR, kurs rupiah pada Rabu hari ini ialah Rp 16.297 dollar AS. Posisi ini lebih tinggi dari Selasa (11/6) di level Rp 16.295 per dollar AS.
Sementara Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah selaras dengan indeks dollar AS yang tengah berada dalam tren kenaikan.
Berdasarkan data Investing, indeks dollar AS saat ini berada di kisaran 104,78. “Indeks dollar AS stabil di dekat level tertinggi selama satu bulan pada hari Rabu,” ujarnya.
Tingginya indeks dollar AS, kata Ibrahim, kembali muncul dipicu oleh ketidakpastian arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). muncul.
Jelang pengumuman hasil rapat pejabat The Fed, pasar mulai menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga bakal terjadi pada tahun ini.
“Para pedagang juga mewaspadai kemungkinan sikap hawkish dari The Fed, di tengah tingginya inflasi dan kuatnya pasar tenaga kerja,” tuturnya.
Selain itu, kuatnya permintaan terhadap dollar AS dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap kondisi perekonomian China yang baru saja merilis data inflasi yang menunjukan adanya perlambatan, bahkan lebih rendah dari ekspektasi pasar, sehingga memicu kekhawatiran adanya pelemahan daya beli di Negeri Tirai Bambu itu.
“Angka tersebut menunjukkan bahwa belanja konsumen yang merupakan pendorong utama perekonomian Tiongkok masih lemah, bahkan ketika aktivitas pabrik meningkat,” ucapnya.
Ekonomi Indonesia dibayang-bayangi oleh tren pelemahan rupiah dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam waktu yang bersamaan. Banyak pihak menyebut, kondisi ini ada kaitannya dengan perekonomian global yang masih menghadapi tantangan dan ketidakpastian.
Namun, ekonom sekaligus ahli keuangan dan pasar modal Budi Frensidy justru tak sependapat. Menurut dia, keadaan ekonomi secara global justru sedang dalam kondisi yang sangat baik, bahkan, berdasarkan catatannya, beberapa indeks bursa global sedang menembus rekor tertinggi.
“Kita (Indonesia) berat di indikator makro, yaitu pelemahan rupiah, tripel defisit, dan capital outflow yang sangat deras,” kata dia kepada Kompas.com (19/6).
Budi juga memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi akan stagnan di level lima persen, bahkan kemungkinan lebih rendah.
“Selama kebijakan fiskal tidak pro-pasar tetapi justru kontraktif terutama dengan peningkatan tarif pajak, kondisi seperti ini bisa bertahan berbulan-bulan.
Sebaliaknya, kondisi positif dapat terbentuk ketika ada modal asing yang masuk ke Indonesia (capital inflow). “Current account bisa positif, demikian juga financial account, sehingga rupiah menguat,” terang dia.
Selain itu, tensi politik yang menghangat menjelang pilkada serentak 27 November dan juga peralihan ke pemirntahan baru nanti bisa jadi membuat calon investr dalam posisi “wait and see”.
Siap-siap kencangkan ikat pinggang, hindari membeli barang konsumptif yang tidak diperlukan.



