ATHENA – Uni Eropa (EU) mengutuk tindakan terbaru Israel yang memperluas permukiman ilegal di Tepi Barat yang didudukinya.
“Uni Eropa mengutuk rencana legalisasi lima permukiman Israel dan pengumuman ribuan unit rumah baru di Tepi Barat yang diduduki,” kata kepala kebijakan luar negeri EU Josep Borrell, dalam pernyataan Rabu malam (3/7/2024).
EU juga mengecam kebijakan perampasan tanah oleh Israel yang terus berlangsung di Tepi Barat.
“Upaya yang sedang berlangsung dan bertujuan untuk menetapkan fakta di lapangan, serta berisiko mengarah pada aneksasi de facto, harus dihentikan,” bunyi pernyataan itu.
Pernyataan tersebut juga memperingatkan bahwa kebijakan Israel dalam membangun permukiman di wilayah Palestina yang diduduki melanggar hukum internasional, memperburuk ketegangan, dan merusak upaya mencapai solusi dua negara.
EU mendesak Israel untuk membatalkan keputusan tersebut.
“Sejalan dengan posisi bersama yang sudah lama ada dan Resolusi Dewan Keamanan PBB, EU tidak akan mengakui perubahan pada perbatasan tahun 1967, kecuali disetujui oleh para pihak terkait,” tegasnya.
Menteri Pembangunan Internasional Belgia Caroline Genner juga mengomentari langkah Israel tersebut.
“Perluasan baru permukiman Israel di Tepi Barat merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan melemahkan solusi dua negara,” katanya di platform X.
Dia menambahkan bahwa komunitas internasional harus memberikan tekanan, menggunakan segala cara hukum yang memungkinkan, untuk menghentikan ekspansi ilegal ini.
Kabinet Israel pekan lalu menyetujui langkah-langkah untuk “melegalkan” daerah-daerah permukiman di Tepi Barat. Kabinet juga setuju untuk menjatuhkan sanksi terhadap Otoritas Palestina.
Otoritas penyiaran resmi Israel, KAN, melaporkan pada Jumat (28/6/2024), bahwa Kabinet Keamanan menyetujui rencana untuk menghadang pengakuan negara Palestina maupun langkah-langkah lain di pengadilan internasional.
Rencana tersebut mencakup tindakan terhadap Otoritas Palestina, legalisasi lima permukiman di Tepi Barat, dan penerbitan tender ribuan unit rumah baru di permukiman tersebut.
Selain itu, pencabutan izin dan tunjangan bagi pejabat Palestina, membatasi pergerakan mereka, dan mencegah pejabat senior meninggalkan negara tersebut.





