Astronot AS kembali ke bumi dengan SpaceX

Stasiun Antariksa Internasional (ISS). Dua astronot AS yang terjebak di ISS sejak 5 Juni lalu akan dipulangkan ke bumi dengan pesawat SpaceX milik miliarder Elon Musk Feb. 2025.

ASTRONOT Amerika Serikat Barry Wilmore dan Sunita  Williams yang terjebak di orbit rendah bumi di Stasiun Antariksa  Int’l (ISS) sejak Juni lalu dipastikan akan dipulangkan dengan kapsul SpaceX.

Keduanya yang diterbangkan ke ISS dalam misi delapan hari  dengan pesawat Starliner milik Boeing pada 5 Juni 2024 terjebak akibat malfungsi pada sistem pendorong wahana transportasi antariksa tersebut.

Wilmore dan Williams  masih berada di ISS yang mengorbit bumi pada ketinggian 400 km dan bergerak mengelilingi bumi pada kecepatan 28.000 km per jam atau 7,67 km per detik.

ISS adalah sebuah gabungan stasiun luar angkasa, khususnya Mir-2 Rusia, Stasiun Luar Angkasa Freedom AS dan fasilitas orbital Columbus Eropa, mewakili kehadiran manusia di luar angkasa secara tetap.

ISS telah ditempati oleh paling tidak dua astronot sejak 2 Nov. 2000. Setiap kali pergantian awak, keempat awak lama dan baru ada di sana dan juga paling tidak satu pengunjung lainnya.

ISS merupakan projek gabungan dari 16 negara: AS, Rusia, Jepang, Kanada, Brasil dan 11 negara dari Uni Eropa dan  sejumlah agen luar angkasa dari berbagai negara.

Dihadapkan pada pilihan antara tetap kembali ke bumi dengan Starliner milik Boeing atau Crew Dragon SpaceX milik miliarder Elon Musk, Badan Antariksa AS (NASA) akhirnya memilih yang kedua.

Alasannya, NASA menganggap ada masalah pada sistem pendorong Starliner sehingga terlalu berisiko untuk membawa pulang kedua awak  sesuai rencana.

Dalam  konferensi pers di Huston, para pejabat NASA kemudian memastikan, kedua astronot dalam keadaan aman dan siap untuk tinggal lebih lama lagi di orbit.

“Mereka akan menggunakan waktu tambahan untuk melakukan eksperimen sains bersama tujuh astronot lainnya,” kata NASA, sebagaimana diberitakan  Reuters.

Kembali Februari 2025

Akibat perubahan yang jarang terjadi dalam operasi astronot NASA, Wilmore dan Williams diperkirakan baru akan kembali ke bumi dengan SpaceX pada Februari 2025  yang akan diluncurkan bulan depan sebagai bagian dari misi rotasi astronot 2025.

Mereka akan dipulangkan ke bumi dengan pesawat ruang angkasa Crew Dragon SpaceX. Dua dari empat kursi astronot Crew Dragon akan dikosongkan untuk Wilmore dan Williams.

Boeing berharap misi uji coba Starliner akan menebus program yang bermasalah setelah bertahun-tahun mengalami masalah pengembangan dan pembengkakan anggaran lebih dari 1,6 miliar dollar AS sejak 2016.

Lima dari 28 pendorong Starliner dilaporkan telah gagal selama penerbangan dan terjadi beberapa kebocoran helium, yang digunakan untuk memberi tekanan pada pendorong.

Untungnya, Starliner masih bisa merapat ke stasiun berupa sebuah laboratorium seukuran lapangan sepak bola yang telah menampung kru astronot bergilir selama lebih dari dua dekade.

Menurut NASA, Starliner milik Boeing akan lepas landas dari ISS tanpa awak pada awal September. Pesawat ruang angkasa ini akan mencoba untuk kembali ke Bumi secara mandiri, meninggalkan tujuan uji coba utama untuk memiliki awak yang hadir dan memegang kendali untuk perjalanan pulang.

“Saya tahu, ini bukan keputusan yang diharapkan, tetapi kami siap melakukan aksi yang diperlukan untuk mendukung keputusan NASA. Fokusnya terutama untuk memastikan keselamatan kru dan pesawat ruang angkasa,” kata Kepala Starliner Boeing, Mark Nappi.

Suara bulat

Kepala operasi luar angkasa NASA Ken Bowersox menyebut, para pejabat badan antariksa itu dengan suara bulat memilih Crew Dragon SpaceX untuk membawa pulang para astronot.

Sedangkan pihak Boeing yang menjagokan kapsul Starliner yang diklaim aman telah mendiskusikan keputusan NASA tersebut dengan CEO Perusahaan yang baru, Kelly Ortberg yang meyakini, Boeing akan melanjutkan program Starliner yang  akan menerbangkan kru lain di masa depan.

Boeing berjuang selama bertahun-tahun untuk mengembangkan Starliner, kapsul yang dirancang untuk bersaing dengan Crew Dragon sebagai opsi kedua AS untuk mengirim kru astronot ke dan dari orbit Bumi.

Namun Starliner gagal pada uji coba peluncuran ke ISS pada  2019 tanpa awak, lalu sebagian besar berhasil dalam upaya perbaikan pada 2022 walau  juga mengalami masalah pada sistem pendorong.

Misi bulan Juni dengan awak pertamanya diperlukan sebelum NASA dapat mengesahkan kapsul tersebut untuk penerbangan rutin, tetapi sekarang jalur sertifikasi awak Starliner masih belum pasti dalam misi yang telah menelan biaya 125 juta dolar AS itu.

Boeing sudah berupaya keras melakukan pengujian dan simulasi di bumi untuk mengumpulkan data yang digunakan guna  meyakinkan pejabat NASA bahwa Starliner aman untuk menerbangkan para kru kembali ke Bumi.

Namun, hasil  pengujian malah mengundang pertanyaan-pertanyaan teknis yang lebih sulit dan akhirnya gagal meredam kekhawatiran para pejabat NASA tentang kemampuan pendorong Starliner membawa pulang awaknya , bagian yang paling menakutkan dan rumit dari misi uji coba itu.

“Terlalu banyak ketidakpastian dalam sistem pendorong,” kata kepala program kru komersial NASA, Steve Stich, kepada para wartawan.

Jalan Starliner yang sekarang tidak pasti untuk menerima sertifikasi NASA yang telah lama dicari akan menambah krisis yang dihadapi oleh Ortberg.

Persaingan iptek tidak ada ujungnya. Di atas langit, masih ada langit lagi, sehingga energi, pemikiran dan dana harus terus dikuras.(Sumber: NASA via AFP, Reuters, Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here