OGAN ILIR – Dompet Dhuafa menyalurkan hadiah kepada 31 guru ngaji di sejumlah lokasi di Sumatra Selatan secara bertahap, dan penyaluran terakhir telah berhasil dilakukan pada Kamis (12/9/2024) di Desa Tanjung Mas, Kecamatan Rantau Alai, Kabupaten Ogan Ilir.
Wahyu Putra Pratama selaku PIC Program Dakwah Dompet Dhuafa Sumatra Selatan mengatakan, pemberian hadiah ini sebagai bentuk apresiasi kepada guru-guru ngaji atas dedikasi dan keikhlasannya mengajarkan Al-Qur’an, dan rata-rata tidak dibayar.
Meskipun begitu, terkadang memang ada beberapa orangtua santri berpenghasilan yang secara senang hati memberi para guru ngaji itu sejumlah materi sebagai bentuk apresiasi.
“Mereka rela mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran tanpa pamrih. Bahkan mereka tidak dibayar. Padahal mereka juga memiliki kewajiban untuk memberi nafkah keluarganya,” ungkap Wahyu.
Salah satu penerima manfaatnya adalah Muhammad Thoriq, guru ngaji TPA Nurussalam Desa Ulak, yang telah mengajar selama hampir 12 tahun. Ia mengaku kesulitan menyediakan Al-Qur’an untuk para santri yang kurang mampu.
Saat ini, TPA Nurussalam memiliki kurang lebih 53 santri dengan tiga guru tenaga pengajar. Di sini anak-anak tidak dipungut biaya mengaji, hanya saja mereka harus memiliki Al-Qur’an. Beberapa anak yang tidak memiliki Al-Qur’an atau yang Al-Qur’an-nya sudah rusak, maka si guru yang harus menyediakannya. Entah dengan meminjamkan atau dengan membelikan.
“Kadang saya harus meminjamkan atau membelikan sendiri,” ujar Thoriq.
Senada dengan Thoriq, Edi Jaya (46), guru ngaji di Desa Tanjung Mas, Kecamatan Rantau Alai, Ogan Ilir juga menghadapi tantangan serupa. Ia harus membagi waktu antara bekerja di ladang dan mengajar ngaji.
Edi bersama dua guru lainnya berjuang untuk menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada 60 anak Tanjung Mas. Ia pun rela rumahnya menjadi kelas mengaji setiap selesai shalat Maghrib.
“Saya ini meneruskan perjuangan orangtua, yaitu mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak. Pesan orangtua kami, pengajian ini jangan sampai putus. Dulu saya pedagang ke sana kemari, jual ini jual itu. Tapi semenjak orangtua tidak ada, maka saya mau nggak mau harus meneruskan perjuangannya. Jadi semua kegiatan itu saya lepas. Sekarang mungkin kalau siang ke ladang berkebun, nanti malamnya mengajar ngaji,” ucap Edi.
Masih sangat disayangkan, ternyata hampir 40 persen guru ngaji di seluruh wilayah Indonesia masih dibayar Rp100.000, sebagian bahkan tidak. Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) pada 2019 mencatat, total jumlah guru TPA dan TKA saat ini sebanyak 928 ribu orang.
Di wilayah-wilayah pelosok, kondisi ini akan terasa lebih miris. Kisah perjalanan guru ngaji yang tak dibayar sama sekali ketika mengajarkan ilmu-ilmu Islami masih sering dijumpai. Padahal profesi ini sangat bernilai tinggi, namun masih jarang dihargai.
Melalui hadiah ini, Dompet Dhuafa berharap dapat memberikan semangat baru bagi para guru ngaji dalam menjalankan tugas mulia mereka. Sahabat baik bisa ikut ambil bagian pada kebaikan ini melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/bantugurungaji.





