JAKARTA – Badan Wakaf Indonesia (BWI) meyakini bahwa masalah sosial seperti kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan dapat diatasi jika potensi wakaf sebesar Rp180 triliun per tahun dimanfaatkan secara optimal.
Wakil Ketua BWI, Ahmad Zubaidi, menjelaskan bahwa perkiraan potensi wakaf ini didasarkan pada analisis berbagai profesi masyarakat yang dilakukan oleh BWI. Menurutnya, diperlukan intervensi dari berbagai pihak, bukan hanya pemerintah dan BWI, untuk memaksimalkan potensi ini.
“Andaikata di lingkungan ormas-ormas Islam ataupun kelembagaan-kelembagaan lainnya sudah mampu memaksimalkan wakaf ini, maka saya yakin problem yang kita hadapi itu bisa kita atasi bersama,” kata Ahmad dalam acara Waqf Goes to Campus XIV Solo Raya yang diikuti secara daring, Jakarta, Rabu (6/11/2024).
Ahmad juga menekankan bahwa Indonesia memiliki peluang besar dengan banyaknya lembaga di berbagai bidang sosial, pendidikan, dan ekonomi. Dengan bekerja sama, seluruh lembaga ini bisa mewujudkan potensi wakaf secara bertahap.
“Setidaknya, insyaallah akan dapat diwujudkan secara bertahap. Barangkali tidak langsung Rp180 triliun, bisa dimulai dari sekian persennya. Tapi ada tren peningkatan setiap tahunnya, yaitu tren-tren yang signifikan,” ujarnya.
BWI mengajak kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan, termasuk dalam hal penyebaran literasi tentang pentingnya wakaf, terutama wakaf produktif dan wakaf uang.
Ahmad mengakui pentingnya wakaf untuk masjid dan madrasah, namun menekankan bahwa perluasan pemanfaatan harta wakaf akan meningkatkan manfaatnya.
Untuk mengikuti perkembangan zaman, BWI telah menerapkan sistem digital melalui platform berkahwakaf.id, yang memudahkan masyarakat berwakaf.
Selain itu, ada juga platform Satu Wakaf yang memungkinkan masyarakat berkolaborasi dengan nadzir dalam memaksimalkan aset wakaf menjadi produktif.
Ketua Divisi Husoli BWI, Agus Priyatno, menambahkan bahwa BWI juga berupaya meningkatkan kompetensi nadzir melalui program sertifikasi. Saat ini terdapat sekitar 4.800 nadzir di Indonesia, dan jumlah ini diharapkan terus bertambah.
“Kita masih kekurangan banyak (nadzir) karena wakaf produktif akan terus kita kembangkan supaya betul-betul menjadi pilar peradaban yang ada di Indonesia yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat,” tuturnya.




