DONALD Trump, kandidat dari Partai Republik resmi memenangi Pemilu Amerika 2024 setelah meraup 277 suara elektoral, hingga Rabu (6/11) pukul 19.00 WIB, unggul jauh dari pesaingnya dari Partai Demokrat, Kamala Harris yang hanya meraih 224 suara elektoral.
Untuk bisa menjadi presiden, kandidat harus meraih minimal 270 suara elektoral dari total 538 suara elektoral yang diperebutkan.
Trump menang di 34 negara bagian AS, termasuk Arizona, Michigan, dan Nevada, mendapatkan total 70.950.428 suara atau 51 persen, sedangkan Kamala Harris yang maju bersama Tim Walz hanya meraih 224 suara elektoral, sehingga tidak memenuhi ambang batas minimal untuk memenangkan Pilpres kali ini.
Harris mendapatkan total 66.146.831 suara atau 47,5 persen. dengan mencatatkan kemenangan di 22 negara bagian, namun dia kehilangan suara dari tiga negara bagian yang sebelumnya dimenangkan Demokrat, yakni Georgia, Pennsylvania, dan Wisconsin.
“Kami harus menerima hasil pemilu ini dan saya sebelumnya hari ini sudah berbicara dengan Presiden terpilih Trump untuk mengucapkan selamat atas kemenangannya,” kata Harris dalam pidato di almamaternya, Howard University, di Washington, AS.
Harris seperti dikutip AFP juga juga mengaku menngatakan kepada Trump akan membantunya dan timnya dalam masa transisi, dan akan melaksanakan peralihan kekuasaan secara damai.
Di depan kerumunan massa yang bersorak-sorai, Harris memulai dengan mendesak para pendukungnya untuk terus memperjuangkan ide-ide mereka meskipun mereka kecewa sehari setelah Trump mencetak kemenangan yang menentukan.
“Hasil pemilu ini bukanlah yang kita inginkan, bukan yang kita perjuangkan, bukan yang kita pilih, tetapi dengarkan perkataan saya bahwa cahaya janji Amerika akan selalu menyala terang selama kita tidak pernah menyerah dan selama kita terus berjuang,” katanya.
“Dengarkan saya ketika saya mengatakan bahwa cahaya janji Amerika akan selalu menyala terang selama kita tidak pernah menyerah dan selama kita terus berjuang,” serunya.
Sementara PM Swedia Ulf Kristersson mengatakan, kemenangan Donald Trump di pemilihan presiden AS atau pilpres AS membahayakan komitmen Washington terhadap Ukraina.
Kristersson mengucapkan selamat kepada Trump atas kemenangannya melalui unggahan di media sosial X pada Rabu pagi.
Namun, beberapa jam kemudian Kristersson dalam konferensi pers menyatakan, kembalinya Trump ke Gedung Putih membawa risiko, termasuk potensi berkurangnya komitmen AS terhadap Ukraina.
“Saya tidak akan mengandalkannya,” kata Kristersson kepada wartawan. “Sebaliknya, kami mencatat fakta bahwa AS hingga saat ini merupakan donor bantuan militer terbesar bagi Ukraina. Kami tidak menganggapnya remeh,” lanjutnya. Jika digabungkan, menurut catatan Kristersson, negara-negara Nordik dan Baltik adalah donor terbesar kedua bagi Ukraina.
Dampak bagi Indonesia
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengungkapkan kemenangan Donald Trump bisa berdampak positif kepada Indonesia. Ia berharap kemenangan Trump bisa berdampak positif pada peningkatan perdagangan dan investasi RI.
“Semoga dengan terpilihnya presiden Trump ini, hubungan RI-AS makin meningkat, utamanya di perdagangan dan investasi. Memang setiap ada pergantian ada dampaknya. Ini hal yang positif buat kita semua,” kata Rosan di kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (6/11).
Presiden RI Prabowo Subianto juga bakal melakukan lawatan ke 5 negara termasuk Amerika Serikat mulai pekan ini untuk memenuhi undangan presiden petahana Joe Biden.
Dalam kunjungan itu rencananya delegasi Indonesia akan membawa isu mengenai energi bersih, hingga kelanjutan komitmen dana hibah Just Energy Transition Partnership (JETP) senilai US$ 20 miliar untuk transisi energi.
Sedangkan Gubernur Bank Indonesia (Gubernur BI), Perry Warjiyo, menjelaskan sejumlah faktor yang perlu diwaspadai, mulai dari nilai tukar rupiah hingga arus modal dan ketidakpastian di pasar keuangan usai kemenangan Trump.
“Kita lihat monitoring hari ini perkembangan Pemilu di AS yang perhitungan sementaranya Trump unggul dan prediksi-prediksi dari pasar, dan kami juga kemungkinan menguatnya dolar, suku bunga AS yang tetap tinggi, dan tentu saja berlanjuytnya perang dagang berlanjut,” kata Perry Warjiyo dalam Raker Komisi XI DPR RI, Rabu (6/11).
Ia menegaskan, situasi ini akan berdampak luas pada negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.
“Dinamika ini yang akan berdampak ke seluruh negara khususnya emerging market, termasuk Indonesia, yaitu satu tekanan-tekanan terhadap nilai tukar, arus modal, dan pengaruhnya pada dinamika ketidakpastian di pasar keuangan,” jelasnya.
Sejumlah kalangan bisnis di dalam negeri juga mencemaskan kebijakan pengenaan pajak tinggi terhadap produk pesaiang utama AS yakni China juga bakal memgimbas ekspor produk komoditas Indonesia. (AFP/ns)





