BEIJING (KBK)—Sedikitnya 50 orang tewas dalam sebuah bentrokan di tambang batu bara di Aksu, kawasan Xinjiang, Tiongkok, yang dihuni mayoritas suku Uighur. Radio Free Asia yang berbasis di Amerika melaporkan peristiwa ini pada hari Kamis (30/9) kemarin, menandai peringatan pemberian otonomi khusus Xinjiang.
Selama ini Pemerintah Tiongkok mengaku menghadapi ancaman serius para sparatis Muslim di Xinjiang, daerah yang kaya sumber daya energi. Ratusan orang tewas dalam beberapa tahun ini dalam bentrokan berdarah antara warga dengan aparat keamanan.
Namun, kelompok pembela hak asasi Tiongkok mengatakan, selama ini Pemerintah Tiongkok tidak pernah menunjukkan bukti yang meyakinkan keberadaan kelompok militan Uighur yang mengancam pemerintah. Mereka mengungkapkan, “pemberontakan” yang dilakukan komunitas Uighur karena pengekangan pemerintah terhadap budaya, agama, dan ekonomi komunitas Uighur di Xinjiang.
Radio Free Asia melaporkan, dalam bentrokan yang terjadi pada pertengah September itu warga dari suku Han yang paling banyak jatuh korban. “Ketika polisi tiba di tempat kejadian, penyerang “menabrak kendaraan mereka menggunakan truk yang penuh batubara,” kata laporan itu, mengutip sebuah sumber, sebagaimana dilansir CNA, Kamis (1/10/2015).
Perwira polisi setempat, Ekber Hashim mengatakan, beberapa pekerja sedang tidur sementara yang lain mempersiapkan untuk bekerja ketika para penyerang menyerbu gedung, setelah membunuh penjaga keamanan.
Selama ini banyak insiden kekerasan yang melibatkan muslim Uighur namun tidak pernah diekspos media setempat. Justru media asing yang kerap mengungkapnya, meski terlambat. Pemerintah juga kerap tidak mengonfirmasi insiden-insiden yang terjadi.
Ketegangan antara Muslim Uighur dengan pendatang dari suku Han terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok pejuang HAM yang berafiliasi dengan Uighur mengatakan, kebijakan pemerintah yang represif juga menjadi pemicu ketegangan tersebut.




