JAKARTA, KBKNews.id — Konflik antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza kembali menjadi sorotan dunia. Memasuki tahun 2025, eskalasi kekerasan meningkat tajam, menandai salah satu periode paling mematikan sejak awal konflik puluhan tahun lalu.
Ribuan korban jiwa berjatuhan, mayoritas merupakan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Ketegangan ini bukanlah peristiwa tunggal yang berdiri sendiri, melainkan puncak dari serangkaian sejarah panjang penjajahan, perlawanan, blokade, dan kegagalan diplomasi. Jalur Gaza yang padat penduduk, sempit wilayahnya, dan miskin infrastruktur, kini berubah menjadi medan perang terbuka yang sarat dengan krisis kemanusiaan.
Berbagai organisasi internasional telah mengecam keras serangan militer Israel, sementara Hamas sebagai pihak yang berkuasa di Gaza juga terus meluncurkan roket ke wilayah Israel. Situasi menjadi semakin kompleks dengan minimnya jalur diplomatik yang benar-benar efektif. Ketegangan politik global dan keterlibatan negara-negara besar juga turut memperkeruh keadaan.
Di tengah kekacauan tersebut, masyarakat dunia kembali mempertanyakan: apa akar sebenarnya dari konflik ini? Mengapa Gaza terus menjadi sasaran? Bagaimana posisi Indonesia, dan apakah upaya perdamaian masih mungkin dilakukan?
Artikel ini merangkum tujuh fakta penting terkait konflik Gaza, mulai dari latar belakang sejarah, agresi militer terkini di tahun 2025, hingga dampaknya terhadap warga sipil, jurnalis, tenaga medis, serta respons dunia internasional termasuk Indonesia.
Simak ulasannya berikut ini.
1. Akar Konflik: Sejarah Panjang Sejak Awal Abad ke-20
Konflik Israel-Palestina berakar dari Deklarasi Balfour tahun 1917, di mana Inggris mendukung pendirian “tanah air nasional” bagi Yahudi di Palestina. Ketegangan meningkat seiring dengan berdirinya negara Israel pada tahun 1948, yang memicu perang dan pengungsian massal warga Palestina. Sejak itu, wilayah Gaza menjadi pusat konflik antara Israel dan kelompok-kelompok Palestina seperti Hamas.
2. Agresi Militer Israel 2025: Serangan Brutal dan Korban Sipil
Pada Maret 2025, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di Gaza, menewaskan lebih dari 400 orang dalam satu malam. Serangan ini terjadi setelah runtuhnya gencatan senjata dan dianggap sebagai respons terhadap penahanan sandera oleh Hamas.
3. Krisis Kemanusiaan: Sistem Kesehatan di Ambang Kolaps
Serangan Israel telah menghancurkan infrastruktur kesehatan di Gaza. Lebih dari 1.400 tenaga medis dilaporkan tewas, dan sekitar 360 lainnya ditahan oleh otoritas Israel. Rumah sakit kekurangan pasokan medis, tempat tidur, dan staf, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah parah.
4. Jurnalis Menjadi Korban: Konflik Paling Mematikan bagi Media
Sejak Oktober 2023 hingga April 2025, sebanyak 232 jurnalis telah tewas di Gaza, menjadikannya konflik paling mematikan bagi pekerja media dalam sejarah modern. Serangan terhadap tenda-tenda media dan lokasi-lokasi pers telah menciptakan “kuburan informasi” di wilayah tersebut.
5. Upaya Evakuasi oleh Indonesia: Solidaritas dan Kontroversi
Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengevakuasi 1.000 warga Gaza, termasuk anak-anak yatim piatu dan korban luka-luka, sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan. Namun, langkah ini menuai kritik dari beberapa pihak yang menilai bahwa evakuasi tersebut tidak menyentuh akar konflik dan dapat mempercepat dominasi Israel di Palestina.
6. Blokade dan Tuduhan Kejahatan Perang
Organisasi HAM Israel, Gisha, menuduh bahwa blokade Israel terhadap Gaza, yang menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan, merupakan kejahatan perang. Blokade ini telah menyebabkan kelangkaan makanan, air, listrik, dan obat-obatan, memperburuk kondisi kehidupan warga Gaza.
7. Upaya Diplomatik dan Tantangan Gencatan Senjata
Meskipun ada upaya internasional untuk mencapai gencatan senjata, negosiasi antara Israel dan Hamas menghadapi hambatan. Hamas menolak syarat-syarat yang dianggap tidak adil, seperti desakan untuk melucuti senjata tanpa jaminan penghentian perang atau penarikan pasukan Israel dari Gaza.





