Pembelian senjata global naik

Anggaran militer global naik dari 2,22 triliun ke 2. 7 triliun dolar AS akibat gejolak konstelasi geopolitik global. (ilustrasi Edward Ricardo)

DI TENGAH ketidakpastian perekonomian dan konstelasi  geopolitik saat ini ternyata belanja pertahanan global pada 2024 naik 9,4 persen dari sekitar 2.22  triliun ke 2,72 triliun dolar AS atau setara Rp45,8 quadriliun.

Angka kenaikan belanja militer tersbut seperti diungkapkan Institut Penelitian Pedamaian Int’l Stockholm (SIPRI) (21/4) merupakan yang tertinggi sejak pasca berakhirnya era Perang Dingin pada akhir 1991.

SIPRI mencatat, meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong semua kawasan dunia menambah belanja militer, terutama di kawasan Eropa dan Timur Tengah.

“Lebih dari 100 negara di seluruh dunia meningkatkan pengeluaran militer mereka pada tahun 2024,” ditulis dalam SIPRI, seperti dilansir Reuters.

“Sejumlah pemerintah semakin memprioritaskan keamanan militer, sering kali dengan mengorbankan  anggaran di sektor lainnya, terutama ekonomi dan sosial sehingga berdampak signifikan pada masyarakat bertahun-tahun ke depan,” ungkap SIPRI.

Di Eropa, perang di Ukraina dan kekhawatiran terhadap komitmen AS dalam aliansi Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) mendorong pengeluaran militer naik 17 persen.

Perang Ukraina berawal dari invasi Rusia ke negara tetangganya itu sejak 24 eb. ‘22  sudah berlangsung lebih tiga tahun dan menewaskan ratusan ribu personil ke dua belah pihak.

Negara-negara anggota NATO terpaka menaikkan anggaran pertahanannya untuk menghadapi kemungkinan konflik dengan Rusia setelah AS di bawah Presiden Donald Trump meminta mereka mengurangi ketergantungan pada AS.

Eropa tertinggi

SIPRI mencatat, kenaikan anggaran militer negara negara di  Eropa melampaui level tertinggi sejak berakhirnya Perang Dingin.

Rusia misalnya mencatatkan lonjakan pengeluaran terbesar. Belanja militernya diperkirakan mencapai 149 miliar dollar AS (sekitar Rp2.509 triliun), naik 38 persen dibandingkan 2023.

Nilai ini dua kali lipat dibandingkan 2015, mewakili 7,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Rusia, dan menghabiskan 19 persen dari seluruh anggaran pemerintahnya.

Di sisi lain, total pengeluaran militer Ukraina tumbuh 2,9 persen menjadi 64,7 miliar dollar AS (sekitar Rp1.090 triliun), setara dengan 43 persen dari pengeluaran militer Rusia.

Dengan proporsi 34 persen dari PDB, Ukraina mencatatkan beban militer terbesar di dunia pada 2024. “Ukraina saat ini mengalokasikan semua pendapatan pajak untuk membiayai militernya,” ujar SIPRI.

“Dalam ruang fiskal yang ketat, akan menjadi tantangan bagi Ukraina untuk terus meningkatkan pengeluaran militernya,” tertulis pula dalam laporan tersebut. Baca

Sementara itu, AS tetap menjadi negara dengan pengeluaran militer terbesar. Belanja pertahanan AS naik 5,7 persen menjadi 997 miliar dollar AS (sekitar Rp16.791 triliun).

Angka ini mencakup 66 persen dari total pengeluaran NATO dan 37 persen dari seluruh belanja militer dunia tahun ini.

Jika saja perdamaian terwujud di mana-mana,anggaran militer mestinya bisa dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengentaskan kemiskinan umat manusia.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here