JAKARTA, KBKNews.id — India, melalui Kementerian Luar Negeri, menuduh Pakistan mendalangi serangan militan di Kashmir pada Selasa (22/04/2025). Serangan itu menewaskan 26 wisatawan.
India bertindak tegas dengan menangguhkan Perjanjian Air Indus, perjanjian kunci yang mengatur distribusi air dari Sungai Indus sejak 1960.
Sementara itu, pasukan India dan Pakistan terlibat saling baku tembak ringan di sepanjang garis kontrol LoC (Line of Control) untuk malam keempat berturut-turut, diikuti dengan penutupan udara Pakistan terhadap penerbangan India dan pembatasan perdagangan timbal balik.
Penghentian Perjanjian Air Indus
India menghentikan pertukaran data hidrologi dan menunda proyek kerja sama di bawah Perjanjian Air Indus, dengan alasan Pakistan mendukung terorisme lintas batas.
Langkah ini memicu kekhawatiran di Pakistan, yang bergantung pada Sungai Indus untuk 80 persen lahan pertanian.
Islamabad mengecam keputusan India sebagai tindakan “tidak bertanggung jawab” dan memperingatkan bahwa penangguhan perjanjian bisa dianggap sebagai tindakan permusuhan.
Intensifikasi Bentrokan Senjata di Garis Kontrol
India dan Pakistan telah menembakkan senjata kecil di sepanjang LoC untuk malam keempat, dengan masing-masing pihak saling menuduh memulai tembakan. Pakistan secara resmi membantah keterlibatan dalam serangan militan dan mendesak penyelidikan netral atas insiden di Kashmir.
Sementara itu, India melaporkan operasi keamanan besar-besaran di wilayah yang terkena dampak, termasuk penangkapan ratusan tersangka dan pembongkaran beberapa rumah yang diduga terkait militan.
Dampak Ekonomi dan Politikal
Neraca pasar keuangan India terguncang: nilai tukar rupiah bergerak di kisaran 85,09–85,65 per dolar AS, menutup di 85,45, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun melonjak karena kekhawatiran geopolitik.
Analis memproyeksikan rentang fluktuasi masih akan tinggi hingga ada kepastian redanya ketegangan, dengan langkah-langkah bank sentral India untuk menstabilkan pasar melalui pembelian obligasi dan potensi pemangkasan suku bunga.
Reaksi dan Seruan Internasional
Serangan pada Selasa (22/04/2025) bertepatan dengan kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke India, yang meningkatkan sorotan dunia terhadap krisis ini.
Presiden Amerika Serikat juga menyatakan solidaritas kepada India atas korban yang jatuh, sembari menekankan pentingnya restrain dan dialog langsung antara kedua negara.
Organisasi internasional menyerukan kedua pihak untuk menahan diri dan melakukan penyelidikan independen, agar konflik tidak meluas menjadi konfrontasi militer yang dapat mengguncang keamanan regional.
Dengan dua negara bersenjata nuklir ini berada pada ambang ketegangan tinggi, perhatian dunia kini tertuju pada langkah diplomatik dan militer selanjutnya yang akan menentukan stabilitas Asia Selatan.




