
SETELAH rangkaian prosesi pemakaman usai, dan mendiang Paus Fransiskus sudah beristirahat dalam damai di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma, Sabtu (26/4), fokus selanjutnya pemilihan Paus baru.
AFP melaporkan, 400.000 pelayat termasuk sejumlah pemimpin dunia seperti Presiden AS Donald Trump, Presiden Italia Sergio Matarella, PM Inggeris Keir Starmer, Raja Spanyol Felipe VI dan Ratu Letzia serta sejumlah kepala pemerintahan lain dan para selebriti dunia untuk memberikan penghormatan terakhir pada Paus.
Hadir pula dalam prosesi pemakaman Paus lebih dari 220 dari seluruhnya 252 kardinal yang berkedudukan di Roma, Vatikan atau yang masih merangkap Uskup Agung di manca negara.
Paus Fransiskus yang wafat di usia 88 tahun dikenal gigih memperjuangkan perdamaian, rendah hati dan sangat bersahaja, bahkan ia dilaporkan hanya memiliki harta peninggalannya bernilai Rp1,6 juta rupiah saja.
Paus asal Argentina yang dikenal sebagai sosok reformis dan pembela kaum marginal, sehingga banyak umat yang tidak hanya berduka, tetapi juga khawatir mengenai masa depan Gereja setelah kepergiannya.
“Ia berhasil mengubah wajah gereja menjadi lebih wajar dan manusiawi,” ujar Romina Cacciatore (48), penerjemah asal Argentina yang tinggal di Italia seraya menambahkan, namun ia khawatir apa yang bakal terjadi.
Penyusunan jadwal Conklave
Sementara, Senin pagi waktu Vatikan (28/4) antara 100 sampai 120 kardinal dari total 135 kardinal berusia di bawah 80 tahun yang memiliki hak memiih dan dipilih berkumpul dalam pertemuan “kongregasi umum” untuk menyusun jadwal conclave (pemilihan (pemilihan Paus baru)
Dalam pertemuan ini, mereka akan menentukan tanggal dimulainya conclave yang akan berlangsung di Kapel Sistina yang terkenal dengan lukisan fresko atau seni lukis dinding.
Pemilihan Paus baru atau konklaf sudah dikenal selama berabad-abad, di mana para kardinal-elektor memberikan empat suara hingga terpilih satu kandidat dengan mayoritas perolehan dua pertiga suara.
Kardinal Jean-Claude Hollerich dari Luksemburg memperkirakan conclave akan dimulai pada 5 atau 6 Mei 2025, setelah masa berkabung selama sembilan hari yang berakhir pada 4 Mei.
Masa berkabung sampai terpilihnya Paus baru disebut “sede vacante” atau tahta dalam keadaaan kosong.
Para Kardinal disumpah untuk menjaga kerahasiaan semua yang terjadi selama conclave Mereka dilarang berkomunikasi dengan dunia luar, termasuk melalui telepon, internet, atau media lainnya.
Para Kardinal diisolasi dari dunia luar selama Konklaf. Mereka tinggal di Domus Sanctae Marthae, sebuah wisma tamu di Vatikan, dan diantar ke Kapel Sistina setiap hari untuk melakukan pemungutan suara.
Sementara itu, Kardinal Reinhard Marx dari Jerman menyebutkan konklaf kemungkinan berlangsung hanya “beberapa hari”. “Ini bukan masalah konservatif atau progresif, Paus baru harus memiliki visi universal,” ujar Marx.
Selamat datang Paus baru. Semoga yang terpilih nanti adalah sosok yang membawa kedamaian, toleransi dan kasih bagi seluruh umat manusia sepeerti sosok pendahulunya. (AFP/ns)




