
KELOMPOK militan bersenjata menyerang para wisatawan di Kashmir, bagian wilayah administratif India, menelan 26 korban tewas dan melukai puluhan lainnya (24/4).
Peristiwa tersebut, seperti dilaporkan Deutsche Welle, merupakan serangan paling mematikan terhadap warga sipil di wilayah sengketa dua negara bertetangga India dan Pakistan dalam bertahun-tahun.
Hanya sedikit wilayah di dunia yang dipadati peralatan dan personil militer serta gejolak yang begitu intens seperti Kashmir yang terletak di kawasan Himalaya, berbatasan dengan tiga negara kekuatan nuklir: India, Pakistan, dan China.
Wilayah yang telah lama diperebutkan ini sering menjadi medan pertempuran bagi rivalitas regional yang tajam dan ambisi teritorial yang seolah tak ada solusinya.
India menyebut serangan ini sebagai aksi terorisme mengingat beberapa hari sebelumnya, tiga militan dan seorang tentara India terbunuh dalam serangkaian baku tembak di seluruh wilayah, menandakan bahwa ketegangan di kawasan itu sangat berbahaya.
Dengan luas 222.200 km2, wilayah Kashmir terbagi antara India, Pakistan, dan China , namun diklaim sepenuhnya oleh India dan Pakistan.
Kashmir dihuni sekitar 20 juta jiwa, sekitar 14,5 juta warga di wilayah yang dikelola India, dan enam juta orang di wilayah yang dikelola Pakistan, dan hanya beberapa ribu orang di wilayah yang dikelola China.
Sejarah modern Kashmir
Sejarah modern konflik Kashmir bermula pada 1947, ketika India yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Inggris, terbelah menjadi India yang mayoritas Hindu dan Pakistan yang mayoritas Muslim.
Yang kini dikenal sebagai wilayah persatuan India yakni Jammu dan Kashmir- bagian dari wilayah Kashmir yang lebih luas – di masa itu dipimpin oleh Maharaja Hindu Hari Singh, yang pada awalnya menolak bergabung dengan kedua negara.
Namun, keadaan berubah setelah pejuang gerilya Pakistan mencoba merebutnya dan menggulingkan kekuasaan di sana.
Akibatnya, pecah perang pertama India-Pakistan saat Maharaja meminta bantuan India untuk mengusir penyerang dan sebagai imbalannya, ia menyetujui untuk mengalihkan wilayah negara bagian utamanya ke New Delhi.
Kini, India menguasai bagian paling padat penduduk di wilayah itu mencakup Lembah Kashmir, Jammu, dan Ladakh.
Sebaliknya Pakistan menguasai sebagian Kashmir utara, termasuk Azad Jammu dan Kashmir (AJK) serta Gilgit-Baltistan.
China juga hadir
Sementara itu, China mengelola wilayah Aksai Chin yang jarang penduduknya di bagian timur laut, yang juga diklaim India, serta Lembah Shaksgam, di mana India tidak mengakui kekuasaan China.
Klaim Pakistan terhadap Kashmir berakar pada keyakinan bahwa wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim ini seharusnya menjadi bagian dari Pakistan sejak saat pemisahan negara.
India, di sisi lain, bersikeras bahwa Instrumen Akses 1947 yang ditandatangani oleh Hari Singh menjadikan klaim India atas wilayah tersebut sah dan final.
Namun, para ahli hukum mempertanyakan keabsahan dokumen yang ditandatangani di bawah tekanan tersebut.
Perbedaan ini telah memicu berbagai perang, pemberontakan, dan dekade-dekade ketegangan diplomatik.
Meskipun India dan Pakistan mendominasi narasi Kashmir, China juga memegang peran strategis yang tidak kalah penting.
Di bagian timur laut wilayah tersebut, Lembah Shaksgam dan Aksai Chin dikelola oleh China, namun diklaim oleh India.
Meskipun Lembah Shaksgam hampir tidak berpenghuni karena kondisi alamnya yang keras, Aksai Chin memiliki kepentingan vital bagi China dalam hal konektivitas darat antara Tibet dan Xinjiang.
China mengambil alih Aksai Chin pada 1950-an dengan membangun jalan strategis yang menghubungkan Xinjiang dan Tibet, sebuah rute yang melewati wilayah yang diklaim oleh India.
India menentang kehadiran China di kawasan tersebut, yang akhirnya memicu perang singkat namun sengit antara China dan India pada 1962.
Setelah konflik yang berlangsung singkat itu, China tetap menguasai Aksai Chin dan terus mengelolanya hingga kini. dan
Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing telah memperluas kehadiran militernya sepanjang Garis Pengendalian Aktual (LAC) yang memisahkan perbatasan China dan India, menyebabkan sering terjadinya ketegangan antara pasukan kedua belah pihak.
Isu Kashmir sulit dicar titik temunya, karena kompleksitasnya terkait nasionalisme, agama, dan juga perebutan hegemoni di kawasan yang pada gilirannya juga tidak lepas dari dukung-mendukung oleh pemain global. (Deutsche Welle/kompas.com/ns)




