Merancang Keuangan Rumah Tangga, Kunci Ketenangan dan Kesejahteraan Keluarga

BOGOR, KBKNews.id – Kita semua sepakat, membangun rumah tangga bukan sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan pernikahan. Ada komitmen, tanggung jawab, dan tentu saja realitas kehidupan yang harus dijalani bersama. Salah satu realitas yang paling sering jadi ujian adalah masalah keuangan.

Tak sedikit pasangan yang memulai pernikahan dengan cinta, tapi harus mengakhirinya karena persoalan ekonomi. Data Databoks Katadata menunjukkan bahwa pada tahun 2023, sebanyak 108.488 kasus perceraian di Indonesia disebabkan oleh alasan ekonomi. Ini berarti lebih dari seperempat dari total 408.347 kasus perceraian terjadi karena masalah uang.

Masalah ekonomi dalam rumah tangga bukan semata karena penghasilan kecil. Banyak kasus justru terjadi karena ketidaktahuan cara mengelola keuangan. Inilah yang membuat kita semua, baik yang baru menikah, sudah lama menikah, atau yang masih merencanakannya, perlu terus belajar tentang bagaimana cara bijak mengelola keuangan keluarga.

Pada Rabu (23/4/2025), di Zona Madina Dompet Dhuafa, Parung, Bogor, dalam sebuah talkshow bertema “Kesehatan Ibu dan Pengelolaan Keuangan Keluarga” yang diadakan oleh Dompet Dhuafa bersama AXA Mandiri, seorang Ibu Rumah Tangga bernama Lista Rosita (33) tampil sebagai salah satu peserta aktif.

Acara ini dihadiri oleh sedikitnya 30 ibu hamil dan menyusui dari kalangan masyarakat prasejahtera. Mereka berkumpul bukan hanya untuk mendapatkan edukasi kesehatan ibu dan anak, tapi juga untuk menambah wawasan mengenai bagaimana cara mengelola keuangan keluarga secara mandiri dan bijaksana, meskipun dengan penghasilan yang terbatas.

Dalam forum tersebut, hadir narasumber kompeten seperti dr. Ari Waluyo, SpOG(K), MARS, yang memberikan edukasi seputar pentingnya gizi seimbang selama kehamilan, manfaat ASI eksklusif, serta peran nutrisi dalam tumbuh kembang anak.

Sementara dari sisi finansial, Dalila, Head of Business Development & Banca 4.0 AXA Mandiri, berbagi wawasan mendalam tentang pengelolaan keuangan rumah tangga.

Dengan mata yang jujur dan suara lirih, Lista mengajukan pertanyaan, “Bagaimana caranya mengelola keuangan keluarga dengan penghasilan yang kecil, agar rumah tangga kami tetap damai, tentram, dan bahagia?”

Pertanyaan itu mungkin mewakili jutaan keluarga di Indonesia yang bekerja keras setiap hari, tetapi tetap merasa “kurang cukup”. Sebenarnya kunci sukses keuangan bukan pada besar kecilnya pendapatan, tapi bagaimana cara mengelolanya.

“Masalah keuangan bukan soal besar kecilnya penghasilan. Tapi soal bagaimana kita mengelolanya dengan cermat dan bijak,” jawab Dalila dengan bijak.

Ia melanjutkan bahwa dalam keluarga, perempuan (ibu/istri) memegang peran penting sebagai “Menteri Keuangan”. Perempuanlah yang setiap hari menentukan ke mana arah uang mengalir. Maka, kemampuan dasar dalam merencanakan dan mengelola keuangan menjadi bekal utama untuk menjaga stabilitas rumah tangga.

Dalila lalu mengajak peserta mengenal konsep keuangan syariah yang praktis dan bisa diterapkan siapapun, termasuk keluarga dengan penghasilan terbatas. Ia mengutip prinsip dari Buku Ajar Manajemen Kekayaan Syariah terbitan KNEKS, yaitu membagi penghasilan ke dalam lima kantong utama:

  • Zakat (2,5%): Untuk menyucikan harta dan membantu sesama.
  • Assurance: Dana untuk perlindungan dari kejadian tak terduga (seperti sakit, kecelakaan).
  • Present: Memenuhi kebutuhan harian keluarga dengan sederhana.
  • Future: Tabungan untuk kebutuhan jangka panjang seperti pendidikan dan dana melahirkan.
  • Investment: Mempersiapkan masa depan keluarga, termasuk bekal akhirat.

Tak berhenti di situ, Dalila juga memberikan panduan praktis pembagian pendapatan bulanan yang bisa dijadikan acuan oleh ibu rumah tangga. Berikut proporsi ideal pengelolaan keuangan bulanan, seberapapun gaji yang didapatkan:

  • 2,5% untuk zakat.
  • Maksimal 30% untuk kebutuhan hidup pokok.
  • Maksimal 15% untuk gaya hidup.
  • Maksimal 35% untuk hutang atau cicilan.
  • Minimal 10% untuk dana darurat.
  • Minimal 10% untuk tabungan dan investasi masa depan.

Ia mengingatkan bahwa berhutang bukanlah hal yang dilarang, namun harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Jangan sampai hutang konsumtif justru menggerus ketenangan rumah tangga.

“Utang atau kredit boleh saja kalau memang sangat penting dan sudah dipikirkan dengan matang. Tapi harus dibatasi maksimal 35% dari pendapatan bulanan,” jelas Dalila tegas.

Banyak keluarga hidup dari gaji ke gaji (living paycheck to paycheck), bukan karena mereka malas atau boros, tetapi karena tidak pernah diajarkan bagaimana mengelola uang secara benar.

Bahkan, banyak dari kita yang belum pernah membuat anggaran rumah tangga, belum pernah menyiapkan dana darurat, atau tidak tahu bagaimana memulai menabung.

Kunci pengelolaan keuangan yang baik terletak pada tiga hal:

  • Pengetahuan: Mengerti prinsip-prinsip dasar keuangan.
  • Kesadaran: Menyadari pentingnya merencanakan keuangan.
  • Kedisiplinan: Menjalankan prinsip tersebut secara konsisten.

Semua itu bisa dimulai dari langkah sederhana. Setiap rupiah yang kita kelola dengan bijak, adalah investasi untuk ketenangan rumah tangga, masa depan anak-anak, dan kebaikan yang berkelanjutan.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here