JAKARTA, KBKNews.id — No cap, main character, riz, skibidi, hingga sigma merupakan sebagian dari kosakata yang ramai digunakan oleh generasi muda saat ini, terutama Gen Z dan Gen Alpha. Di tengah derasnya arus budaya internet dan media sosial, bahasa bukan hanya berubah, tapi juga berevolusi.
Melansir dari Aljazeera, Jumat (4/7/2025) kata-kata seperti skibidi, meski berasal dari lagu absurd di TikTok, kini telah diakui sebagai bagian dari sistem bahasa. Bahkan ada yang menyamakannya dengan kata ciptaan Shakespeare yang dulunya juga hanya lelucon sesaat.
Pakar linguistik Lebanon Hayat Al-Katib menjelaskan bahwa perubahan ini bukan hal baru. “Bahasa selalu mencerminkan perubahan sosial, teknologi, dan budaya. Saat ini, bahasa anak muda adalah hasil dari pengaruh global, media sosial, dan keinginan membedakan diri dari generasi tua,” katanya.
Dia juga menyinggung fenomena Arabizi, yaitu penggunaan alfabet Latin untuk menulis bahasa Arab, lengkap dengan angka pengganti huruf Arab.
Sementara itu, mahasiswa Oxford Fine Fintan, yang menguasai 11 bahasa, menambahkan bahwa bahasa internet telah menjadi semacam dialek tersendiri.
“Di Singapura, hampir tidak ada yang berbicara dalam satu bahasa murni. Semua bercampur,” tuturnya.
Menurutnya, dominasi bahasa Inggris di internet bisa menjadi ancaman bagi bahasa-bahasa minoritas, namun juga bisa menjadi alat integrasi jika diolah secara lokal.
Kata-kata seperti NPC, side quest, nerf, dan OP pun masuk ke bahasa sehari-hari lewat game online, mirip seperti metafora olahraga yang sudah lama menghiasi percakapan umum.
Di tengah perdebatan apakah ini fase sesaat atau awal era baru, evolusi bahasa dinilai akan terus terjadi. Dengan begitu, istilah seperti slay, drip, sus, hingga grizzler mungkin akan menjadi bagian permanen dari kamus masa depan.
“Kalau kamu cukup lama berada di internet, lambat laun kamu akan paham semuanya,” ujar influencer Oliver Carter.





