
FLORES TIMUR, KBKNews.id – Di sudut terpencil di Desa Watohari, Pulau Solor Timur, Nusa Tenggara Timur, terpancar senyum hangat dari Mama Syamsia Ghafur (55). Baginya, menyantap daging adalah kemewahan yang hanya bisa ia rasakan setahun sekali, tepatnya saat Iduladha. Tahun ini menjadi kali kedua ia dan warga desanya menikmati daging kurban.
“Tidak menyangka kami bisa merasakan lagi daging kurban tahun ini,” ujarnya dengan mata berbinar.
Kesehariannya diisi dengan perjuangan. Untuk memenuhi kebutuhan dapur, ia seringkali hanya mengandalkan ikan, sayur daun kelor, atau bahkan sekadar nasi putih.
Ia juga bercerita bagaimana biasanya ia mencari nafkah dengan berjualan tikar daun lontar di pasar, kemudian berkeliling desa menjual sayur dan buah-buahan yang ia beli setelah daun lontarnya terjual. Dengan keuntungan tak seberapa, sekitar Rp50.000 dalam tiga hari.
Pada Hari Tasyrik kedua Iduladha 1446 Hijriah, saat sebagian besar tempat telah merayakan lebaran kurban, kebahagiaan itu akhirnya tiba di Watohari.
“Penyembelihan kurban baru ada di hari Tasyrik kedua itu saat Dompet Dhuafa datang. Di hari H Iduladha tidak ada sembelih hewan kurban,” kenang Mama Syamsia pada tim Dompet Dhuafa, Minggu (8/6/2025).

Ia sudah punya rencana sederhana, “Ketika dapat kurban, saya rencana ingin dimasak sop daging. Semoga tahun depan (kurban) bisa datang lagi,” ucapnya.
Kebaikan yang menyentuh hati Mama Syamsia itu adalah buah dari ikhtiar panjang Dompet Dhuafa bersama Rahmi Syofia, atau yang dikenal luas sebagai Mimi Campervan Girl.
Mimi, seorang perempuan pejalan dan pegiat sosial, memiliki misi unik: mencari dan menebar makna dengan kearifan lokal. Tahun 2025 ini, ia kembali merelawankan diri untuk terjun langsung dalam distribusi Tebar Hewan Kurban (THK) bersama Dompet Dhuafa, petualangan keduanya setelah tahun lalu di Pulau Kei, Maluku.
Perjalanan ke Flores Timur kali ini adalah misi yang menantang namun penuh ganjaran. Sebelum tiba di Watohari, Mimi telah lebih dulu mendistribusikan hewan kurban di Desa Kiwang Ebang dan juga kepada masyarakat penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Boru.
Medan menuju Pulau Solor sendiri bukan perkara mudah: perjalanan darat tiga jam dari Wulanggitang ke Larantuka, dilanjutkan kapal menuju Adonara, lalu darat lagi sejam ke dermaga, dan akhirnya menyeberang lagi sejam dengan kapal sembari mengangkut hewan-hewan kurban.

Sesampainya di Desa Watohari, Mimi mendapatkan kejutan yang tak akan ia lupakan. Berbeda dengan dua desa sebelumnya, kali ini warga menyambutnya dengan tarian adat yang meriah dan pengalungan selendang kain khas NTT.
Senyum dan sorak gembira terpancar, terutama karena ini adalah kali kedua THK Dompet Dhuafa hadir, dimana tahun lalu menjadi kurban pertama yang menyentuh desa mereka tahun lalu.
Mimi menyadari sesuatu yang mendalam, “Aku melihat langsung proses THK bersama Dompet Dhuafa saat di Maluku dan NTT, dan ini membuka mata dan menjadi ilmu baru. Tentang wilayah-wilayah yang baru aku sambangi, kebahagiaan juga manfaat bagi mereka para penerima yang aku temui, dan syariat kurban yang aku pelajari. Ketika hadir langsung kesini, aku merasa bahwa seharusnya mereka menerima tapi malah memberi pada kita,” jelas Mimi.
Di tengah suasana guyub itu, kaum pria sibuk mempersiapkan penyembelihan, sementara para wanita menyiapkan jamuan dan masakan daging kurban.
Penyembelihan berlangsung khidmat, dan Mimi sendiri tak sungkan ikut membantu warga membuat wadah daging dari daun lontar, menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan yang penuh kebersamaan ini.
Semangat Mimi Campervan yang tak kenal lelah ini ternyata menginspirasi banyak pihak. Sebanyak 28 pekurban tergerak untuk ikut berbagi kebahagiaan melalui THK 2025 Dompet Dhuafa.

Hasilnya, lima ekor sapi dan sembilan ekor kambing berhasil didistribusikan ke tiga desa di Kabupaten Flores Timur, membawa senyum dan harapan bagi ratusan jiwa.
“Aku belajar banyak dari yang aku temui melalui perjalanannya. Mensyukuri hidup dan menjadi ‘obat’ bagi diri ku pribadi. Sekaligus menikmati proses menjaga wasilah teman-teman pekurban, juga Dompet Dhuafa,” tutur Mimi, merefleksikan bagaimana perjalanan ini juga menjadi penyembuh baginya sendiri.
Secara keseluruhan, di Nusa Tenggara Timur, program THK 2025 ini mendistribusikan sebanyak 128 ekor sapi dan 50 ekor kambing, setara dengan 1.646 doka. Hewan kurban ini tersebar di 15 kabupaten, termasuk Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Belu, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Sikka, Bajawa, Ende, Rote, Flores Timur, Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, juga Manggarai Barat.
Kisah Mama Syamsia dan Mimi Campervan adalah salah satu cerita bahwa makna THK jauh melampaui sekadar ritual. Kurban sengaruh itu menjadi jembatan kasih, penghubung hati, dan penumbuh harapan di setiap sudut negeri.
Kebaikan tak akan pernah habis, justru akan terus berlipat ganda saat kita ikhlas berbagi, dan seringkali, kita justru akan “diberi balik” dengan makna dan kebahagiaan yang tak ternilai.
Oleh: Dhika Prabowo




