
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan keinginannya untuk kembali bertemu pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, pada tahun ini.
Menurut catatan, kedua pemimpin negara yang bersteru itu sudah bertemu tiga kali. Pertemuan pertama Trump dan Kim berlangsung di Hotel Capella, Pula Santosa, Singapura 12 Juni 2018 menandai pertemuan pertama pemimpin kedua negara itu.
Yang kedua digelar di Hanoi, Vietnam 27-28 Februari 2019 walau berakhir tanpa kesepakatan terkait isu utama yakni sanksi ekonomi AS dan denuklirisasi Korut.
Untuk ketiga kalinya Trump dan Kim bertemu di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan wilayah Korea Selatan dan Korea Utara di pada 30 Juni 2019.
Sementara saat menerima lawatan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, di Gedung Putih, Senin (25/8), Trump melontarkan lagi niatnya untuk bertemu Presiden Kim tahun ini.
“Saya akan bertemu dengannya. Saya menantikan pertemuan itu. Dia sangat baik kepada saya,” kata Trump kepada wartawan dan menambahkan, pertemuan itu diharapkan terjadi tahun ini.
Trump mengaku memiliki hubungan pribadi yang kuat dengan Kim. Pada masa jabatannya, dua kepala negara ini bertemu tiga kali. “Saya mengenalnya lebih baik daripada siapa pun, hampir, kecuali mungkin saudara perempuannya,” ujarnya.
Hidupkan Diplomasi Tingkat tinggi
Kali ini, Trump tampak berusaha menghidupkan kembali diplomasi tingkat tinggi dengan Korut yang sempat meredakan ketegangan di masa lalu, meskipun gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang terkait program nuklir Pyongyang.
Sementara pertemuan dengan Presiden Korsel Lee Jae Myung di Washington diawali ketegangan setelah Trump sebelumnya mengunggah komentar keras di medsos terkait aksi “pembersihan” atau “revolusi” di Korea Selatan, merujuk pada penggerebekan yang melibatkan gereja.
Namun, saat bertemu langsung di Oval Office, Trump meredam pernyataannya sendiri. “Saya yakin ini hanya kesalahpahaman,” katanya.
Lee, yang dikenal sebagai sosok progresif dan pendukung diplomasi, memuji Trump dalam pertemuan itu. “Anda telah menjadikan Amerika bukan hanya penjaga perdamaian, tetapi pencipta perdamaian,” kata Lee.
Bahkan, ia berseloroh tentang rencana pembangunan “Trump Tower” di Pyongyang dan bermain golf di Korea Utara. “Saya menantikan pertemuan Anda dengan Ketua Kim Jong Un, pembangunan Trump Tower di Korea Utara, dan bermain golf di sana,” lanjut Lee.“Kim akan menunggu Anda,” ujarnya.
Pertemuan kedua pemimpin jika terwujud, paling tidak meniupkan angin segar, melupakan sejenak narasi kebencian yang bersliweran, membuat pengap panggung politik global. (AFP/Kompas.com/ns)




