TANJUNG BALAI – Suasana mencekam masih terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara, setelah kerusuhan terjadi hingga fasiitas atau bangunan milik warga keturunan Cina meletus di Tanjung Balai, Sumatera Utara, Jumat (29/7/2016) menjelang tengah malam, sejak sekitar pukul 23.00.
Dilaporkan BBC Indonesia, toko-toko tutup sejak pagi, dan petugas polisi dan tentara berjaga di berbagai sudut, khususnya di rumah-rumah ibadat Budha dan Kong Hu Tsu. Begitupun dengan warga keturunan Cina tak tampak di tempat-tempat umum.
“Mereka sepertinya tidak mau keluar rumah, masih khawatir dengan keadaan,” kata salah satu jurnalis BBC.
Namun awalnya, banyak juga warga lain yang datang ke rumah-rumah ibadat yang dirusak dan dibakar itu, untuk sekadar melihat-lihat. “Mereka sekadar penasaran saja, sesudah kerusuhan semalam. Tapi tidak ada orang yang tampak ingin melakukan perusakaan lagi,” tambahnya.
Atas kerusuhan yang terjadi setidaknya tiga vihara dan delapan kelenteng sebuah yayasan sosial dan tiga bangunan dirusak atau dibakar, dan enam mobil juga dibakar atau dirusak.
Sementara itui Juru bicara Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting menyebutkan, tujuh orang ditangkap dan diperiksa, namun untuk dugaan penjarahan saat terjadinya kerusuhana yang melibatkan massa lebih dari seribu orang itu.
“Kami terus mendalami, dan menyelidiki siapa pelaku-pelakunya, siapa dalangnya. Mereka pasti ditindak, karena ini merupakan perbuatan pidana,” tegas Kombes Rina Ginting pula.
Disebutkan Rina Ginting, untuk memulihkan keadaan, polisi mengerahkan petugas tambahan yang di tempatkan di berbagai sudut kota.
“Kami mengrahkan 100 petugas bantuan dari Polres Asahan, 30 orang dari Polres Batubara, dan 135 anggota Brimog. Ditambah bantuan pasukan dari Kodim. Ini untuk mengembalikan rasa aman bagi warga masyarakat,” katanya.
Sebelumnya, ia menyebut, saat kejadian petugas polisi sangat terbatas jumlahnya, sehingga tak bisa mencegah kerusakan dan permbakaran Jumat malam itu.
“Namun bukan berarti polisi membiarkan. Kami berusaha menghimbau massa untuk membubarkan diri, juga mencegah mereka melakukan kekerasan lebih jauh. Kami juga melakukan segalanya untuk melindungi warga (Tionghoa) dari massa yaang tak terkendali,” paparnya.
Ia menyebutkan, malam itu bakar-bakarannya sendiri, tak berlangsung lama, karena yang dibakar adalah barang-barang persembahyangan. Misalnya dupa, gaharu, lilin, minyak dan kertas, patung Budha, gong., dan perabotan seperti meja, kursi, lampu, lampion. Bangunan-bangunannya sendiri, terbakar sedikit.





