Sepatu Kekecilan hingga Nyeri Parah, Siswa SMK di Samarinda Meninggal 

JAKARTA, KBKNEWS.id — Duka menyelimuti keluarga Mandala Risky Saputra (16), siswa SMK Negeri 4 Samarinda, yang meninggal dunia setelah mengalami sakit yang bermula dari keluhan pada bagian kaki.

Mandala, yang tinggal di Jalan Tarmidi, Gang 2, Kelurahan Sungai Pinang Luar, awalnya hanya merasakan nyeri di kaki. Namun seiring waktu, rasa sakit itu menjalar hingga ke pinggang dan punggung, disertai pembengkakan yang semakin memburuk.

Ibunya, Ratnasari, mengungkapkan bahwa sang anak jarang mengeluh meski kondisinya terus menurun. “Dia tidak banyak mengeluh. Nanti setelah pulang baru bilang kalau kakinya sakit sekali,” ujarnya.

Meski dalam kondisi tidak sehat, Mandala tetap berusaha menjalani aktivitas seperti biasa, termasuk bersekolah dan mengikuti program magang di salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda.

Sehari sebelum meninggal, kondisinya dilaporkan semakin memburuk. Ia sempat mendapatkan penanganan berupa suntikan di fasilitas kesehatan dan sempat merasa sedikit membaik, namun keesokan harinya Mandala menghembuskan napas terakhir.

Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu hambatan besar dalam proses penanganan. Keluarga mengaku kesulitan mengakses layanan kesehatan hingga pengurusan pemakaman, termasuk saat membutuhkan ambulans yang terkendala biaya.

Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur, Rina Zainun, menyebut pihaknya menerima laporan dari komite sekolah dan langsung mendatangi rumah duka. Ia mengungkapkan kondisi tempat tinggal keluarga tidak memadai untuk proses pemulasaraan jenazah.

“Setelah kami datang ke rumah orang tua, ternyata kondisi rumahnya memang tidak memungkinkan. Ruang tamu menyatu dengan dapur, sehingga tidak ada tempat yang layak untuk proses pemulasaraan,” jelasnya.

Akhirnya, seluruh proses pemulasaraan hingga salat jenazah dilakukan di lingkungan sekolah dengan bantuan penuh dari pihak sekolah, termasuk penyediaan ambulans.

“Alhamdulillah semua dibantu oleh pihak sekolah, dari pemulasaraan, disalatkan di sekolah, hingga ambulans untuk pemakaman,” lanjut Rina.

Ia juga menyoroti kondisi ekonomi keluarga yang dinilai sangat memprihatinkan. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah fakta bahwa Mandala masih menggunakan sepatu sekolah yang sudah tidak sesuai ukuran.

“Yang menjadi kemirisan, masih ada anak di Kaltim yang harus bertahan dalam kondisi serba kekurangan, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti perlengkapan sekolah pun tidak terpenuhi,” tegasnya.

Menurutnya, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya validitas data sosial agar bantuan pemerintah bisa tepat sasaran. “Data itu kunci. Kalau datanya tidak benar, maka bantuan tidak akan tepat sasaran,” pungkasnya, dilansir samarinda post.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here