AS Pernah Borong MiG-29

Pesawat tempur MiG-29 buatan Uni Soviet. AS pernah membeli 24 unit milik Moldovia agar tidak keduluan dibeli oleh Iran (foto: Bulgarian militair)

AMERIKA Serikat secara diam-diam pernah  memborong 21 jet tempur MiG-29 buatan seterunya, Uni Soviet dari Moldova pada 1997 untuk mencegah jet-jet tersebut jatuh ke tangan Iran.

Pasalnya, seperti dilaporkan oleh National Security Journal, AS tak ingin kemampuan pesawat pesawat Iran untuk mengangkut senjata nuklir meningkat, dan kemampua militernya mendominasi Timur Tengah.

MiG-29 yang dikenal NATO dengan sebutan Fulcrum, merupakan salah satu jet tempur generasi ke-4 andalan Uni Soviet. Berkecepatan lebih dari 2 Mach, kemampuan manuver tinggi, serta persenjataan canggih berupa rudal berpemandu radar dan inframerah, jet ini dianggap lawan tangguh bagi F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon milik AS.

Saat Uni Soviet bubar di penghujung 1991, Moldova yang merupakan salah atu negara sempalannya mewarisi 34 unit MiG-29, namun, negara kecil itu tidak memiliki dana maupun infrastruktur untuk merawatnya.

Iran segera menunjukkan minat membeli varian MiG-29C, yang disebut-sebut mampu mengangkut senjata nuklir sehingga Presiden AS Bill Clinton yang menilai kemungkinan itu sebagai ancaman serius, segera membelinya.

AS membeli seluruh 21 varian MiG-29 Moldova itu (14 MiG-29C, enam MiG-29A dan satu MiG-29B) pada Oktober 1997 beserta 500 rudal udara-ke-udara, suku cadang, dan peralatan diagnostik.

Sebagai imbalannya, Moldova menerima sekitar 40 juta dollar AS (sekitar Rp 656 miliar), ditambah bantuan kemanusiaan serta peralatan militer tidak mematikan seperti truk.

Setelah diangkut dengan pesawat kargo C-17, MiG-29 itu dibongkar dan dipindahkan ke Wright-Patterson Air Force Base di Ohio, markas National Air and Space Intelligence Center (NASIC).

Di sana, pilot-pilot Amerika dan Israel menguji kemampuan jet tersebut secara langsung. Mereka menganalisis avionik, radar, sistem kendali, hingga daya manuver.

Diandalkan untuk “dog fight”

Seorang jenderal AU Israel bahkan memuji MiG-29 dengan menyebutnya “sangat hebat dalam dog fight atau duel udara jarak dekat”, dan tidak kalah lincah dibandingkan pesawat tempur Barat.

Melalui evaluasi langsung, AS memperoleh wawasan berharga mengenai teknologi Soviet—mulai dari sistem rudal hingga kelemahan perawatan.

Informasi ini kemudian digunakan untuk mengembangkan taktik pertempuran udara dan program pelatihan pilot. Hal ini penting, mengingat MiG-29 dipakai banyak negara yang berseberangan dengan Washington, termasuk Korea Utara, Suriah, hingga Iran.

Meski sebagian besar jet itu kemudian dipreteli atau dimusnahkan, beberapa unit masih dipajang di museum AU AS, dan ada pula rumor bahwa sebagian dipasok ke Ukraina, meski kabar itu tidak pernah dikonfirmasi.

Dengan kanon internal tunggal 30 mm (kapasitas 150 peluru) dan tujuh “hard point” di bawah sayap, penempur ini dapat dilengkapi dengan berbagai jenis rudal udara ke udara, roket udara ke darat, atau bom pintar, hingga payload maksimum 3.500 kg.

Guna meningkatkan kemampuan jelajah, beberapa varian MiG-29 telah dimodifikasi untuk pengisian bahan bakar di udara (air refueling).

MiG-29 yang dibandrol seharga 20 sampai 30 juta dollar AS (antara Rp320 sampai Rp480 miliar), mulai dirancang pada 1977 dan digunakan 30 negara di dunia.

MiG-29 juga diciptakan dalam varian naval, beroperasi dari kapal induk. AL India lebih banyak menggunakan MiG-29 (44 unit) dibandingkan AL Rusia 24 unit.

Saat ini, AS sudah memiliki pesawat pesawat tempur generasi ke-5 yang berkualifikasi siluman seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II, bahkan sedang mengembangkan jenis Next Generation Air Dominance (NGAD) F-47 yang masuk generasi ke-6,  sehingga MiG-29 juga dikembangkan ke MiG-35. (Naational Security Journal/Kompas.com/ns)

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here