AS dan Iran Kembali Saling Serang di Tengah Gencatan Senjata

AS dan Iran di tengah gencatan senjata yang disepakati 17 Juni lalu terus saling serang (ilustrasi: youtube)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 28/6 – AMERIKA SERIKAT selama dua hari berturut-turut, sejak Jumat (26/6) melancarkan serangan terhadap Iran dengan alasan sebagai respons atas klaim pelanggaran gencatan senjata, sebaliknyaya Iran pun melancarkan serangan drone ke Bahrain..

Serangan ini, seperti dilaporkan al-Jazeera (28/6) diklaim sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal dagang Singapura di Selat Hormuz.

Namun yag jelas, aksi berbalasan ini merupakan indikasi terbaru bahwa gencatan senjata yang diteken wakil-wakil AS dan Iran di Istana Versailles, Prancis, 17 Juni lalu sedang berada di ambang kehancuran.

Selain menyerang kapal dagang di Selat Hormuz, Iran juga dituding melancarkan serangan drone ke wilayah Bahrain

Sementara itu, dalam sebuah pernyataan, Komando Pusat AS (Centcom) menjelaskan, serangan terbaru terhadap Iran terjadi atas arahan Presiden Donald Trump.

“Pasukan AS melancarkan serangan hari ini sebagai tanggapan langsung terhadap agresi Iran yang terus berlanjut terhadap pelayaran komersial,” tulis Centcom, dikutip dari Al Jazeera.

“Pesawat-pesawat tempur AS menargetkan infrastruktur pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, lokasi pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penebar ranjau,” sambungnya.

Ledakan dilaporkan terjadi di Iran selatan, di sekitar desa Tahrui, dekat pelabuhan Sirik, yang juga menjadi titik fokus serangan AS pada hari Jumat.

Media pemerintah Iran juga mengindikasikan bahwa Pulau Qeshm telah terkena serangan.
Kapal kargo Singapura

Sebuah kargo milik Singapura, Kamis (25/6) mengalami kerusakan setelah dihantam oleh proyektil tak dikenal di lepas pantai Oman di Selat Hormuz.

Badan keamanan UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan, insiden tersebut terjadi 7,5 mil laut (14 kilometer) di sebelah tenggara Dahit, di wilayah eksklave Musandam, Oman.

“Sebuah kapal kargo telah dihantam di sisi kanan oleh proyektil yang tidak diketahui, menyebabkan kerusakan pada anjungan,” kata UMKTO.

“Nakhoda melaporkan tidak ada korban jiwa dan tidak ada dampak lingkungan,” sambungnya.

Perusahaan keamanan maritim Inggris, Vanguard Tech mengidentifikasi kapal tersebut sebagai kapal kontainer berbendera Singapura, Ever Lovely.

Situs web MarineTraffic.com menunjukkan, kapal tanker tersebut meninggalkan ladang minyak Al Shaheen padaKamis dan dijadwalkan berlabuh di Fujairah, Uni Emirat Arab, pada hari Minggu.

Rangkaian peristiwa serupa memicu serangkaian serangan AS pada Jumat.
Harus lapor ke Iran. Situasi makin memanas setelah setiap kapal harus lapor kepada otoritas Iran untuk melayari Selat Hormuz.

Iran telah memperingatkan kapal-kapal untuk tidak memasuki atau meninggalkan Teluk melalui Selat Hormuz tanpa izin.

Akan tetapi, kapal-kapal terus bergerak, beberapa di antaranya menggunakan rute yang tidak diizinkan oleh Teheran.

Menurut platform pelacakan Kpler, sekitar setengah dari 42 kapal yang melakukan pelayaran pada Kamis (25/6) menggunakan rute selatan di sepanjang pantai Oman yang tidak disetujui Iran.

Sementara itu, Badan maritim PBB mengatakan, operasi evakuasi telah membebaskan 115 kapal dan 2.500 pelaut yang terjebak di Selat Hormuz, namun serangan itu memaksa penghentian operasi.

Perdamaian di Timur Tengah memang sulit diwujudkan. Faktanya, gencatan senjata sudah disepakati pun terus dilanggar. (al-Jazeera/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here