
PEMIMPIN Mesir, Turkiye, dan Qatar bergabung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani komitmen rencana perdamaian guna mengakhiri perang antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza.
BBC melaporkan (15/10), kesepakatan tercapai pada hari yang sama saat Hamas menyerahkan seluruh sisa 20 sandera yang masih hidup sebagai bagian dari pertukaran dengan 2.000 tahanan Palestina yang mendekam di penjara-penjara Israel., Senin lalu (13/10).
Hamas dalam serangan mendadak ke Israel selatan, yang mengawali konflik pada 7 Oktober 2023, membawa sekitar 250an sandera, sebagian sudah diebaskan dalam kesepakatan sebeumnya, sebagian besar tewas di tengah pertempuran sehingga hanya tersis 20 sandera yang dibebaskan Senin lalu plus empat jenasah sandera alainnya. Selain itu, Hamas juga menyerahkan jenazah empat sandera yang telah meninggal dunia.
Israel menyebut masih ada 24 jenazah lainnya yang belum dikembalikan dan menuntut agar Hamas memenuhi kewajibannya sesuai perjanjian gencatan senjata Gaza.
Tahap awal rencana perdamaian Trump Rencana perdamaian 20 poin yang diinisiasi Trump mencakup tiga tahap.
Fase pertama menetapkan gencatan senjata mulai berlaku mulai Kamis, 10 Oktober pukul 12.00 waktu setempat, serta peningkatan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Penarikan pasukan Israel
Dalam kesepakatan awal gencatan senjata, pasukan Israel mulai ditarik ke garis yang membuat mereka menguasai sekitar 53 persen wilayah Gaza. Tahap ini menjadi langkah awal dari tiga fase penarikan pasukan sesuai yang direncanakan .
Namun, dua unsur dari fase pertama masih belum tuntas, yakni masuknya bantuan tanpa batasan melalui penyeberangan Rafah di perbatasan Mesir, serta pengembalian seluruh jenazah sandera.
Israel mengatakan telah menerima empat jenazah pada 13 Oktober, tetapi 24 lainnya belum diserahkan hingga batas waktu yang telah ditentukan.
“Kami menuntut Hamas menaati bagiannya dari perjanjian ini,” kata seorang pejabat Israel, seraya menegaskan militer tidak akan berhenti sebelum semua jenazah dikembalikan kepada keluarga mereka.
Salinan perjanjian gencatan senjata yang dipublikasikan media Israel menyebut Hamas dan faksi Palestina lainnya mungkin tidak dapat menemukan semua jenazah dalam waktu yang ditentukan.
Satgas Int’l
Seorang pejabat Israel menambahkan, satuan tugas internasional akan dibentuk untuk membantu menemukan jenazah sandera yang belum dipulangkan.
Badan pertahanan sipil Gaza mengatakan, Israel mulai mundur dari beberapa bagian wilayah tersebut, terutama di Kota Gaza dan Khan Younis.
Usai penyelesaian tahap pertama, menurut laporan AFP, negosiasi akan berlanjut ke fase kedua dari rencana perdamaian.
Menurut dokumen tersebut, perang akan resmi berakhir jika seluruh poin disetujui kedua pihak. Rencana itu juga menyebutkan pembentukan pasukan multinasional beranggotakan sekitar 200 tentara yang diawasi militer AS untuk memantau gencatan senjata. Meski demikian, tidak akan ada pasukan AS yang ditempatkan langsung di wilayah Gaza.
Pada tahap awal, Gaza akan dikelola oleh komite transisi sementara terdiri atas teknokrat Palestina dan berada di bawah pengawasan “Dewan Perdamaian” yang dipimpin langsung oleh Trump.
Kepemimpinan Gaza nantinya akan diserahkan kepada Otoritas Palestina di Tepi Barat setelah melewati proses reformasi. Rencana tersebut menegaskan Hamas tidak akan memiliki peran apa pun dalam pemerintahan Gaza ke depan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Demiliterisasi Gaza
Selain itu, Gaza akan didemiliterisasi, dan seluruh “infrastruktur militer, teror, dan ofensif” akan dihancurkan. Sejumlah poin dalam kesepakatan masih menjadi perdebatan antara kedua pihak.
Hamas menolak pelucutan senjata dan menyatakan hal itu hanya bisa dilakukan setelah berdirinya negara Palestina yang berdaulat.
Dalam tanggapan awal terhadap rencana Trump, Hamas juga tidak menyinggung soal pelucutan senjata, memunculkan dugaan bahwa posisi mereka belum berubah.
Sementara itu, meskipun Israel menyetujui rencana perdamaian tersebut, PM Benjamin Netanyahu menolak keterlibatan Otoritas Palestina dalam pemerintahan Gaza pascaperang.
Hamas di sisi lain berharap dapat memiliki peran di masa depan sebagai bagian dari gerakan Palestina yang bersatu.
Poin lain yang menjadi perdebatan ialah sejauh mana penarikan pasukan Israel dari Gaza. Israel mengatakan penarikan awal memungkinkan mereka tetap menguasai sekitar 53 persen wilayah Gaza.
Rencana Gedung Putih mengindikasikan penarikan lebih lanjut hingga 40 persen, lalu 15 persen pada tahap berikutnya.
Tahap akhir disebut sebagai pembentukan “perimeter keamanan” yang akan dipertahankan hingga Gaza dianggap benar-benar bebas dari ancaman teror.
Namun, tidak ada batas waktu yang jelas mengenai kapan penarikan penuh pasukan Israel akan dilakukan, sesuatu yang kemungkinan besar ingin diklarifikasi oleh Hamas dalam perundingan mendatang.
Lembaran baru momentum perdamaian kali ini agaknya menciptakan optimisme terwujudnya perdamaian abadi di Timur Tengah termasuk solusi dua negara yakni Israel dan Palestina yang hidup berdampingan. (BBC/AFP/ns)




