JAKARTA, KBKNEWS.id – Bencana akibat perubahan iklim telah memaksa 250 juta orang di seluruh dunia meninggalkan tempat tinggalnya dalam sepuluh tahun terakhir.
Angka ini setara dengan 70.000 pengungsian setiap hari, menurut laporan terbaru Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) yang dirilis, Senin (10/11).
Laporan berjudul No Escape II: The Way Forward menyebut banjir, badai, kekeringan, dan gelombang panas ekstrem sebagai penyebab utama perpindahan penduduk. Di sisi lain, bencana jangka panjang seperti penggurunan, kenaikan permukaan laut, dan kerusakan ekosistem semakin mengancam ketahanan pangan dan air bersih.
Hingga pertengahan 2025, jumlah pengungsi akibat perang, kekerasan, dan penindasan mencapai 117 juta orang. Krisis iklim disebut memperparah kondisi tersebut dengan memperlebar ketimpangan dan memperburuk ketidakadilan sosial. “Krisis iklim adalah pengganda risiko,” tulis UNHCR dalam laporannya.
Sejak 2009, jumlah negara yang mengalami konflik dan bencana iklim sekaligus meningkat tiga kali lipat. Ironisnya, negara-negara rapuh yang menampung pengungsi hanya menerima 25 persen dari dana adaptasi iklim yang mereka butuhkan.
Laporan itu menyoroti sejumlah peristiwa besar, seperti banjir besar di Rio Grande do Sul, Brasil, pada 2024 yang menewaskan 181 orang dan memaksa 580.000 warga mengungsi, termasuk ribuan pengungsi asal Venezuela, Haiti, dan Kuba. Di Myanmar, Siklon Mocha menghancurkan kamp pengungsian berisi 160.000 etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine.
UNHCR memperingatkan bahwa tanpa tindakan cepat, situasi akan semakin parah. Menjelang 2050, kamp pengungsian di wilayah panas bisa mengalami hingga 200 hari suhu berbahaya per tahun, menjadikannya tidak layak huni.
Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi, Filippo Grandi, menyerukan agar Konferensi Iklim COP30 di Brasil memprioritaskan komunitas pengungsi yang paling rentan. “Mereka tidak boleh dibiarkan menghadapi bencana ini sendirian,” ujarnya.





