JAKARTA, KBKNEWS.id – Musibah banjir dan longsor yang melanda Aceh meninggalkan luka mendalam, bahkan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), tak mampu menahan air mata saat menceritakan kehancuran yang terjadi di 18 kabupaten/kota.
Mualem menyebut bahwa bencana kali ini terasa seperti menghidupkan kembali trauma besar Aceh dua dekade lalu. “Aceh seperti mengalami tsunami kedua,” ucapnya.
Mualem mengungkapkan bahwa skala kerusakan sangat parah. Sejumlah pemukiman tersapu banjir bandang dan longsor, bahkan beberapa kampung benar-benar hilang dari peta.
Empat wilayah yang lenyap dalam semalam itu di antaranya berada di Sawang dan Jambo Aye (Aceh Utara) serta kawasan Peusangan (Bireuen).
“Empat kampung itu hilang entah ke mana. Malam itu semuanya lenyap,” tutur Mualem.
Menghadapi kondisi darurat, ia menegaskan bahwa seluruh upaya harus dilakukan cepat dan tanpa jeda. Pembukaan akses darat menjadi fokus pertama agar bantuan logistik dapat menjangkau warga yang terisolasi.
“Tidak boleh ada jeda kemanusiaan. Semua yang terdampak harus segera dilayani,” tegasnya.
Karena sebagian jalur darat rusak parah, distribusi bantuan dilakukan dengan kombinasi udara dan darat. Dari Banda Aceh, Mualem terbang langsung ke Aceh Utara membawa 10 ton beras dari Dinas Pangan Aceh dan sejumlah logistik tambahan dari Triangle Pase serta BPMA.
Setelah mendarat, bantuan dibagikan langsung ke titik-titik pengungsian sepanjang jalur nasional Banda Aceh–Medan yakni Alue Gunto, Geumata, Meunasah Reudeup, Keude Sampoiniet, hingga Panton Labu.
“Kami berusaha menjangkau seluruh pelosok. Tapi ada daerah yang sama sekali tak bisa dilewati kendaraan,” jelasnya.





