Deteksi Penyakit Jantung Bawaan di Indonesia Diperluas, 45.000 Bayi Lahir dengan PJB Setiap Tahun

Tiap tahun diperkirakan 45.000 bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB). (Foto: istockphoto)

Jakarta, KBKNews.id – Penyakit Jantung Bawaan (PJB) masih menjadi persoalan kesehatan serius pada anak di Indonesia. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 45.000 bayi lahir dengan kelainan struktur jantung sejak dalam kandungan. Namun, lebih dari separuh kasus baru diketahui saat kondisi anak sudah memburuk.

Di tingkat global dan Asia Tenggara, angka kejadiannya berkisar 9–10 kasus per 1.000 kelahiran hidup. Artinya, dari setiap 100 bayi yang lahir, satu di antaranya memiliki kelainan jantung bawaan. Situasi di Indonesia dinilai tidak jauh berbeda, meski hingga kini belum tersedia data nasional yang benar-benar komprehensif.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Ade Median Ambari, SpJP(K), PhD, FIHA, menegaskan, PJB merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian anak.

“Data Asia Tenggara menunjukkan prevalensi PJB sebesar 9–10 per seribu kelahiran hidup. Setiap 100 bayi lahir, ada satu yang menderita PJB. Di Indonesia, sekurangnya 45 ribu bayi per tahun lahir dengan kondisi ini,” ujarnya pada Malam Puncak CHD Awareness Week di RS Harapan Kita, Sabtu (14/2/2026) lalu.

Lebih mengkhawatirkan, penelitian yang dirujuk PERKI menunjukkan keterlambatan deteksi PJB di Indonesia mencapai 60,8 persen. Kondisi tersebut membuat banyak anak baru mendapat penanganan ketika komplikasi sudah terjadi.

Ketiadaan Data Nasional dan Tantangan Skrining

Ketua Kelompok Kerja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, dr. Oktavia Lilyasari, M.Kes, SpJP(K), FIHA, menyebut Indonesia hingga kini belum memiliki registri nasional PJB yang menyeluruh.

“Belum ada data nasional tentang angka prevalensi PJB di Indonesia. Padahal data sangat penting untuk menyusun kebijakan yang tepat sasaran,” katanya.

Keterbatasan skrining dini menjadi salah satu hambatan. Tidak semua bayi menjalani pemeriksaan jantung secara menyeluruh setelah lahir. Akibatnya, gejala seperti sesak napas, berat badan sulit naik, mudah lelah, atau kebiruan pada bibir sering kali tidak segera dikaitkan dengan kelainan jantung.

Padahal, deteksi dini sangat menentukan peluang hidup dan kualitas hidup anak ke depan.

Skrining Serentak di 24 Provinsi, Catat Rekor MURI

Menjawab tantangan tersebut, PERKI melalui Pokja Kardiologi Pediatrik dan PJB menggelar program edukasi dan skrining gratis secara serentak dalam rangka Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan.

Program yang berlangsung pada 24 Januari hingga 14 Februari 2026 itu menjangkau 29 kota dan kabupaten di 24 provinsi. Mulai dari Banda Aceh hingga Jayapura. Sasaran utamanya adalah anak dan remaja di bawah usia 18 tahun, termasuk siswa sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah luar biasa, hingga pesantren.

Sebanyak 2.702 murid menjalani pemeriksaan awal. Dari jumlah tersebut, 2.478 anak menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan ekokardiografi atau USG jantung.

Hasilnya, ditemukan 53 kasus PJB dengan angka prevalensi 2,14 persen dari populasi yang diperiksa. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata global, meski perlu kajian lanjutan. Ini  karena skrining difokuskan pada wilayah dan kelompok dengan risiko lebih tinggi.

Atas skala dan cakupannya, program ini memperoleh pengakuan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori “Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan Secara Serentak kepada Anak Terbanyak”. Penghargaan diserahkan dalam Malam Puncak CHD Awareness Week di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita pada 14 Februari 2026.

Pemerintah Dorong Penguatan Layanan Jantung Anak

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin yang hadir dalam acara tersebut menyatakan pemerintah memberi perhatian khusus terhadap kasus PJB.

“Setiap tahun puluhan ribu bayi di Indonesia lahir dengan PJB, dan banyak di antaranya dalam kondisi berat. Per 2025, hampir 1,7 juta bayi telah menjalani skrining dan masih banyak yang belum tertangani dengan baik,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah akan memperkuat kapasitas layanan jantung anak, termasuk menambah jumlah dokter spesialis jantung anak dan bedah jantung anak.

“Ke depan, kita harus lebih agresif dalam penyelamatan nyawa mereka, termasuk dengan memperkuat kapasitas layanan serta menambah jumlah spesialis agar intervensi non-bedah maupun bedah bisa dilakukan lebih banyak,” ujar Budi.

Risiko Lebih Tinggi pada Anak Rentan

Dari hasil skrining, ditemukan kecenderungan kasus lebih banyak pada anak dengan berat badan rendah, stunting, memiliki faktor risiko tertentu, atau anak berkebutuhan khusus.

“Terdapat kecenderungan kasus PJB lebih banyak ditemukan di daerah dengan populasi anak-anak berat badan rendah, stunting, serta anak dengan kebutuhan khusus,” jelas dr. Oktavia.

Anak yang teridentifikasi memiliki PJB langsung mendapatkan edukasi bagi orang tua serta diarahkan untuk pemeriksaan lanjutan dan rujukan ke fasilitas kesehatan yang memiliki layanan jantung anak.

Selain pemeriksaan medis, kegiatan ini juga diiringi edukasi bagi siswa, guru, dan orang tua. Tujuannya jelas untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala awal PJB.

Menuju Registri Nasional dan Penanganan Lebih Cepat

Program skrining massal ini tidak hanya bertujuan menjaring kasus baru, tetapi juga menjadi langkah awal membangun registri nasional PJB. Data yang dikumpulkan meliputi pengukuran antropometri, tanda vital seperti tekanan darah dan saturasi oksigen, pemeriksaan fisik jantung, hingga ekokardiografi.

Dengan data yang lebih sistematis, diharapkan pemerintah dapat merancang program intervensi yang lebih tepat, memperkuat sistem rujukan, serta menekan angka kesakitan dan kematian anak akibat kelainan jantung bawaan.

PERKI menegaskan komitmennya untuk terus mendukung upaya tersebut.

“Ke depannya, kami berharap bisa terus berkontribusi dalam bidang pediatrik ini. Karena setiap detak jantung adalah harapan,” kata dr. Ade.

Upaya deteksi dini dinilai menjadi kunci. Semakin cepat kelainan jantung ditemukan, semakin besar peluang anak mendapatkan terapi yang tepat waktu. Baik melalui obat, tindakan kateterisasi, maupun operasi. Dengan demikian, mereka tetap dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, rumah sakit, dan masyarakat, deteksi dini penyakit jantung bawaan diharapkan tidak lagi menjadi pengecualian, melainkan bagian rutin dari perlindungan kesehatan anak Indonesia.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here