Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan akhir pekan. Rupiah melemah mendekati Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). (Foto: istockphoto)

Jakarta, KBKNews.id – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan akhir pekan. Mata uang Indonesia bergerak melemah dan semakin mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan dinamika pasar global.

Pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026), rupiah tercatat berada di posisi Rp16.925 per dolar AS. Posisi ini melemah 20 poin atau sekitar 0,12 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah sedikit lebih kuat di level Rp16.919 per dolar AS.

Pergerakan Mata Uang Asia Tidak Seragam

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS menunjukkan arah yang beragam. Beberapa mata uang regional menguat, sementara lainnya mengalami pelemahan.

Yen Jepang tercatat menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan dengan kenaikan sekitar 0,62 persen. Baht Thailand juga menunjukkan penguatan sebesar 0,44 persen. Selain itu, peso Filipina menguat sekitar 0,66 persen terhadap dolar AS.

Namun, tidak semua mata uang Asia bergerak positif. Yuan China justru mengalami pelemahan tipis sebesar 0,08 persen. Won Korea Selatan juga turun sekitar 0,15 persen.

Di kawasan Asia Tenggara, dolar Singapura melemah sekitar 0,05 persen pada penutupan perdagangan. Sedangkan dolar Hong Kong mencatat penguatan tipis sebesar 0,05 persen.

Pergerakan yang beragam ini mencerminkan kondisi pasar global yang masih dipenuhi ketidakpastian.

Mata Uang Negara Maju Juga Berfluktuasi

Tidak hanya di Asia, pergerakan mata uang negara maju juga menunjukkan pola yang tidak seragam. Euro Eropa tercatat menguat sekitar 0,23 persen terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris juga mengalami kenaikan sekitar 0,16 persen, sementara franc Swiss menguat tipis sebesar 0,03 persen.

Di sisi lain, beberapa mata uang komoditas justru tertekan. Dolar Australia melemah sekitar 0,14 persen, sedangkan dolar Kanada turun sekitar 0,07 persen.

Fluktuasi ini menunjukkan pasar valuta asing global masih dipengaruhi berbagai faktor eksternal. Mulai dari kondisi ekonomi global hingga ketegangan geopolitik.

Rupiah Tertekan Sentimen Domestik dan Global

Melemahnya rupiah ke kisaran Rp16.900-an mencerminkan tekanan dari dua sisi sekaligus, yaitu faktor global dan domestik. Dari sisi global, ketidakpastian ekonomi dunia serta dinamika pasar keuangan internasional masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang.

Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati berbagai indikator ekonomi serta kebijakan yang berpotensi mempengaruhi arus modal asing.

Kombinasi kedua faktor tersebut membuat pergerakan rupiah cenderung fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here