JAKARTA, KBKNEWS.id – Menjelang waktu berbuka puasa di akhir bulan Ramadhan kemarin, suasana hangat terasa di sebuah rumah sederhana di Jakarta Pusat.
Obrolan ringan yang diselingi tawa menjadi latar cerita Anas dan istrinya, Niken, dalam menjalani kebiasaan berbagi melalui layanan Jemput Zakat Dompet Dhuafa.
Pasangan ini bukan donatur baru. Selama bertahun-tahun, mereka konsisten menyalurkan sebagian rezekinya. Anas, seorang lektor kepala di salah satu kampus ternama, mengenang awal mula kedekatannya dengan Dompet Dhuafa yang berakar dari keterlibatannya dalam proses berdirinya Harian Republika.
Sejak itu, ia mengikuti perjalanan lembaga tersebut hingga berkembang menjadi salah satu pelopor pengelolaan zakat modern yang transparan dan profesional.
Bagi Anas, kepercayaan terhadap lembaga zakat tidak datang secara instan. Ia terbentuk dari pengalaman panjang serta konsistensi dalam pengelolaan dana umat. Ia menilai Dompet Dhuafa mampu menjawab tuntutan zaman, terutama dalam hal transparansi dan sistem administrasi yang semakin rapi dan berbasis digital.
Perubahan tersebut terasa nyata. Dari yang awalnya serba konvensional, kini layanan zakat menjadi lebih praktis dengan dukungan teknologi, termasuk layanan jemput zakat dan bukti transaksi yang tertata. Meski begitu, Anas tetap menghargai interaksi langsung sebagai bagian dari pengalaman berbagi yang lebih bermakna.
Di balik konsistensi itu, terdapat disiplin keluarga yang sudah dibangun sejak lama. Setiap bulan, mereka mengalokasikan penghasilan untuk zakat, infak, dan wakaf dengan porsi yang jelas. Tradisi ini bahkan telah diwariskan sejak orang tua Anas masih hidup, menjadi bentuk nilai yang terus dijaga lintas generasi.
Bagi Niken, berbagi bukan sekadar memberi, tetapi investasi untuk masa depan. Ia meyakini bahwa perubahan kehidupan sangat bergantung pada dua hal utama: pendidikan dan kesehatan. Nilai ini kemudian ia tanamkan dalam keluarga melalui contoh nyata, bukan sekadar nasihat.
Empat anak mereka dibesarkan dalam rutinitas ibadah dan kebiasaan berbagi yang sederhana namun konsisten. Bagi mereka, berbagi tidak harus menunggu momen tertentu, tetapi bisa hadir dalam keseharian, termasuk saat bersilaturahmi atau bepergian.
Meski demikian, Anas melihat masih banyak ruang yang perlu dijangkau oleh lembaga zakat. Ia berharap inovasi terus dikembangkan, terutama dalam menjangkau generasi muda dengan pendekatan yang lebih relevan dan dekat dengan gaya hidup mereka.
Sore itu, proses donasi berlangsung seperti biasa. Nama-nama keluarga, termasuk orang tua yang telah tiada, disebut dalam doa dan niat. Setiap rupiah yang disalurkan membawa harapan, untuk pendidikan, kesehatan, dan masa depan yang lebih baik.
Bagi Anas dan Niken, berbagi adalah cara menjaga nilai, merawat kenangan, sekaligus menanamkan kepedulian pada generasi berikutnya. Dalam keseharian mereka, kebaikan bukan hanya dilakukan, tetapi juga diwariskan.





