
Jakarta, KBKNews.id – Perang besar di Timur Tengah yang telah berlangsung selama lebih dari sebulan memaksa sistem kesehatan Israel masuk ke “mode gerilya”. Ribuan warga kini terpaksa menjalani perawatan dan berlindung di bunker serta area parkir bawah tanah yang dialihfungsikan menjadi rumah sakit darurat. Namun, solusi perlindungan ini justru memicu krisis baru: ledakan infeksi menular dan sanitasi yang buruk.
Sejak konflik pecah pasca-serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari 2026, fasilitas bawah tanah di berbagai kota menjadi benteng terakhir bagi warga sipil dan korban luka. Sayangnya, keterbatasan infrastruktur membuat fasilitas ini berubah menjadi pusat penyebaran penyakit yang mengkhawatirkan.
Sanitasi Buruk dan Ancaman Tuberkulosis
Laporan dari tim medis di lapangan menggambarkan situasi yang mendekati kekacauan. Kurangnya peralatan medis dan standar kebersihan yang merosot tajam menjadi pemandangan sehari-hari. Di beberapa titik, puluhan pasien harus berbagi hanya dua kamar mandi dengan jarak yang sangat dekat dari tempat tidur perawatan.
Kondisi lembap dan sirkulasi udara yang buruk di bawah tanah telah memicu alarm bahaya dari Kementerian Kesehatan Israel. Pada Minggu (29/3/2026), seorang pasien terdiagnosis menderita tuberkulosis (TBC) paru setelah enam hari dirawat di fasilitas bawah tanah.
Kekhawatiran kini meluas karena sekitar 750 orang diduga telah terpapar bakteri tersebut. Secara keseluruhan, terdapat 1.900 orang, termasuk staf medis dan pengunjung dengan imun lemah, yang kini berada dalam pengawasan ketat akibat risiko penularan massal ini.
Tantangan Wabah Campak dan Keterbatasan Ruang
Selain TBC, para pakar penyakit infeksi memperingatkan potensi ledakan wabah campak. Penanganan campak di ruang tertutup bawah tanah memerlukan upaya penelusuran (tracing) yang masif dan rumit, terutama bagi mereka yang belum divaksinasi. Beberapa kasus telah dilaporkan muncul di pusat kesehatan Maayanei Hayeshua dan Shamir.
Yuval Dadon, Wakil Direktur Umum Wolfson Medical Center, mengakui memindahkan operasional rumah sakit ke bawah tanah adalah langkah darurat yang menyimpan risiko kesehatan jangka panjang.
“Rumah sakit tidak dirancang untuk berada di bawah tanah. Kami tahu jika staf dan pasien berada terlalu lama di bawah tanah, hal ini tidak baik bagi kesehatan mereka. Tidak ada yang menyangka kami akan dibombardir dengan begitu banyak rudal dalam jangka waktu yang lama,” ujar Dadon kepada The Times of Israel.
Kreativitas di Tengah Hujan Rudal
Wolfson Medical Center sendiri telah berupaya mengubah ruang penyimpanan menjadi bangsal perawatan. Namun, Dadon mengakui tim medis harus “sangat kreatif” untuk tetap memberikan layanan di tengah keterbatasan ruang yang ekstrem.
Situasi ini semakin mendesak mengingat serangan rudal terus terjadi. Pada Rabu (1/4/2026), sedikitnya 14 orang terluka akibat serangan di Israel tengah, termasuk seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang berada dalam kondisi kritis. Hingga saat ini, total 19 orang tewas di pihak Israel sejak konflik dimulai.
Angka tersebut kontras dengan skala kehancuran di wilayah tetangga. Serangan gabungan di Iran dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.000 orang, sementara intervensi militer Hizbullah di Lebanon sejak awal Maret telah memakan korban jiwa lebih dari 1.200 orang. Di tengah angka kematian yang terus mendaki, rumah sakit bawah tanah Israel kini berjuang di dua front: menyelamatkan korban luka dari serangan udara, dan mencegah pasien mati akibat wabah di dalam bunker.




