Roket Tianlong-3 China Gagal Mengudara Stabil, Ambisi Saingi SpaceX Terganjal

Roket Tianlong-3 gagal mempertahankan stabilitas sesaat setelah lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di Gurun Gobi. (Foto: Space Pioneer)

Jakarta, KBKNews.id – Upaya sektor antariksa swasta China untuk menyaingi dominasi SpaceX kembali menemui jalan terjal. Roket Tianlong-3, yang digadang-gadang sebagai roket paling bertenaga dari perusahaan rintisan Space Pioneer, gagal mempertahankan stabilitas sesaat setelah lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di Gurun Gobi, Jumat (3/4/2026).

Misi yang dimulai tepat pukul 12:17 waktu setempat tersebut awalnya diharapkan menjadi tonggak sejarah baru. Namun, gangguan teknis muncul tak lama setelah mesin menderu, menyebabkan lintasan roket tidak sesuai rencana. Pihak Space Pioneer telah mengonfirmasi kegagalan ini dan segera memulai investigasi mendalam untuk menemukan akar permasalahan.

“Kami memohon maaf kepada seluruh mitra atas ketidaknyamanan ini. Saat ini, tim teknis kami sedang bekerja keras bersama para ahli untuk mengevaluasi data agar misi berikutnya dapat berjalan dengan keberhasilan penuh,” ungkap manajemen Space Pioneer dalam pernyataan resminya.

Spesifikasi Monster: Pesaing Langsung SpaceX

Tianlong-3 bukanlah roket sembarangan. Dengan tinggi mencapai 72 meter, roket ini dirancang untuk menjadi lawan sepadan bagi Falcon 9 milik Elon Musk. Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan reusable atau dapat digunakan kembali hingga 10 kali, sebuah teknologi kunci untuk menekan biaya peluncuran ke ruang angkasa.

Secara teknis, raksasa besi ini mampu mengangkut beban hingga 22 ton ke orbit rendah Bumi (LEO). Dalam sekali jalan, Tianlong-3 dirancang untuk membawa hingga 36 satelit sekaligus, menjadikannya tumpuan utama China dalam membangun infrastruktur internet berbasis satelit di masa depan.

Inovasi Unik: Bahan Bakar Berbasis Batubara

Salah satu poin paling menarik dari Tianlong-3 adalah penggunaan bahan bakar yang tidak lazim. Berbeda dengan roket konvensional, ia menggunakan kerosene hasil olahan batubara yang dipadukan dengan oksigen cair.

Inovasi ini memanfaatkan cadangan batubara China yang melimpah sekaligus bertujuan teknis yang cerdik: mengurangi sisa karbon pada mesin. Dengan residu karbon yang lebih minim, mesin roket diharapkan lebih awet dan tidak memerlukan pembersihan intensif di antara jadwal peluncuran, sehingga frekuensi terbang bisa lebih tinggi.

Misi Besar di Balik Konstelasi Qianfan

Kegagalan peluncuran ini berdampak pada jadwal pembangunan megakonstelasi satelit broadband China bernama Qianfan. Hingga saat ini, baru sekitar 108 satelit yang berhasil mengorbit dari target ambisius sebanyak 15.000 satelit pada tahun 2030.

China bahkan telah mendaftarkan rencana kepada badan telekomunikasi internasional (ITU) untuk meluncurkan total lebih dari 200.000 satelit guna menandingi jaringan Starlink milik SpaceX yang kini telah menempatkan lebih dari 10.000 satelit di luar angkasa.

Sejarah Kendala Teknis

Perjalanan Tianlong-3 menuju landasan pacu memang penuh liku. Pada tahun 2024 lalu, tahap pertama roket ini sempat terlepas secara tidak sengaja saat uji statis api akibat kegagalan struktur. Meski para insinyur telah melakukan lebih dari 100 perbaikan teknis pasca-insiden tersebut, tampaknya tantangan untuk mencapai stabilitas sempurna di udara masih menjadi teka-teki yang harus segera dipecahkan oleh industri antariksa swasta Negeri Tirai Bambu.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here