
Jakarta, KBKNews.id – Jalur maritim paling strategis di dunia, Selat Hormuz, mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas kembali setelah sempat mengalami kelumpuhan hampir total pasca-pecahnya konflik pada akhir Februari lalu. Data terbaru yang dirilis oleh MarineTraffic dan Kpler pada Jumat (3/4/2026) mencatat sebanyak 220 kapal berhasil melintasi selat yang kini berada di bawah kendali ketat Iran tersebut selama bulan Maret.
Meski angka ini menunjukkan tren pemulihan, volume lalu lintas tersebut masih jauh di bawah kapasitas normal sebelum perang. Sebagai gambaran, Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) menyoroti penurunan drastis dari rata-rata 130 kapal per hari pada Februari menjadi hanya hitungan jari di sepanjang Maret—sebuah kontraksi aktivitas hingga 95 persen.
Tanker Minyak Dominasi Arus Pelayaran
Komoditas energi tetap menjadi motor utama penggerak selat ini. Dari total penyeberangan bulanan, kapal tanker pengangkut cairan mendominasi dengan 111 perjalanan atau setara dengan 51 persen dari total volume. Posisi berikutnya diisi oleh 82 kapal kargo curah kering (37 persen) dan 27 kapal pengangkut LPG (12 persen).
Satu hal yang menarik perhatian adalah absennya kapal pengangkut gas alam cair (LNG) yang tercatat melintas selama periode tersebut. Arus lalu lintas pun terlihat tidak seimbang, di mana 68 persen pergerakan didominasi oleh kapal yang keluar dari Teluk (Barat ke Timur) untuk menyuplai kebutuhan energi ke pasar Asia.
Koridor Khusus dan “Armada Bayangan”
Meningkatnya aktivitas di titik jepit (chokepoint) ini tidak lepas dari kebijakan selektif Teheran. Sejak agresi gabungan AS-Israel pada 28 Februari, Iran memberlakukan kontrol ketat dan hanya mengizinkan kapal dari negara-negara yang dikategorikan sebagai “sahabat”.
Perusahaan intelijen maritim Windward melaporkan, kapal-kapal kini mulai menggunakan rute melalui Pulau Larak, sebuah koridor berbasis izin yang terletak sangat dekat dengan garis pantai Iran.
“Kapal-kapal yang terkena sanksi Barat mencakup 62 persen dari transit pada 1 April, seiring dengan pergerakan armada tanker bayangan Iran yang bersiap untuk melakukan pemuatan lebih lanjut,” tulis laporan Windward.
Fenomena ini mengindikasikan adanya negosiasi diplomatik di balik layar antara berbagai negara dengan Iran guna mengamankan jalur logistik mereka di tengah blokade yang masih berlangsung.
Urat Nadi yang Terluka
Selat Hormuz bukan sekadar jalur air biasa. Wilayah ini merupakan jalur bagi seperempat perdagangan minyak global lewat laut. Sebelum konflik meletus, sekitar 20 juta barel minyak mentah melintasi titik ini setiap harinya.
Meskipun dalam tiga hari terakhir volume harian menunjukkan peningkatan—dari 11 kapal menjadi 16 kapal per hari—dunia usaha internasional tetap waspada. Pemulihan bertahap ini masih dibayangi oleh ketidakpastian politik dan risiko militer yang tinggi.
Peningkatan trafik di Selat Hormuz memang membawa angin segar bagi stabilitas pasokan energi dunia, namun para ahli memperingatkan, selama ketegangan antara Iran dan aliansi AS-Israel belum mereda, jalur ini akan tetap menjadi “titik panas” yang sangat rapuh bagi ekonomi global.




