JAKARTA, KBKNEWS.id – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menginstruksikan jajarannya untuk memperluas operasi penangkapan ikan sapu-sapu di seluruh wilayah ibu kota.
Ia menilai keberadaan ikan tersebut perlu dikendalikan, termasuk karena dagingnya disebut mengandung zat berbahaya.
Instruksi ini disampaikan Pramono usai menghadiri acara di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026). Ia meminta operasi tidak hanya dilakukan di Jakarta Pusat, tetapi juga di wilayah lain yang memiliki populasi ikan sapu-sapu tinggi.
“Saya meminta bukan hanya di Jakarta Pusat, di semua wilayah yang ikan sapu-sapunya banyak untuk kita adakan operasi (pembersihan),” ujar Pramono.
Sebelumnya, kegiatan penangkapan telah dimulai di kawasan Jakarta Pusat, tepatnya di aliran kali sekitar Grand Hyatt dan Plaza Indonesia. Operasi tersebut melibatkan pemerintah kota setempat, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, serta petugas PPSU.
Pramono menilai langkah awal ini sudah memberikan dampak positif meski belum bisa langsung menyelesaikan masalah secara menyeluruh. “Yang di PI kemarin sebagai awal. Memang sudah cukup banyak, tapi tidak mungkin langsung bisa selesai,” katanya.
Ia juga mengapresiasi aksi kerja bakti yang dilakukan di Kali Cideng, Menteng, sebagai bagian dari upaya pengendalian ikan sapu-sapu.
Menurutnya, ikan ini merupakan spesies invasif yang berasal dari Amerika Selatan dan memiliki daya tahan hidup tinggi.
“Memang ikan ini migrasi dari Amerika Selatan. Daya tahan tubuhnya luar biasa, dia bisa hidup dengan makan apa saja,” ucap Pramono.
Ikan sapu-sapu (Plecostomus) merupakan ikan air tawar yang hidup di dasar perairan seperti sungai dan kali. Ciri khasnya adalah mulut berbentuk pengisap yang digunakan untuk menempel pada permukaan dan memakan lumut atau sisa organik.
Kemampuan adaptasinya yang tinggi membuat ikan ini mampu bertahan di perairan kotor dengan kadar oksigen rendah. Bahkan, dalam kondisi tertentu, ikan sapu-sapu dapat bertahan hidup di darat dalam waktu singkat.
Sebagai spesies invasif, keberadaan ikan sapu-sapu kerap mengganggu ekosistem karena bersaing dengan ikan lokal dan berkembang biak dengan cepat.
Selain itu, ikan ini jarang dikonsumsi karena tekstur dagingnya keras dan berisiko mengandung logam berat dari lingkungan tercemar.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana terus menggencarkan operasi serupa sebagai upaya menjaga ekosistem perairan sekaligus mengurangi dampak negatif dari populasi ikan sapu-sapu yang tidak terkendali.





