
SETELAH serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak 28 Feb., struktur kekuasaan di Iran mengalami perubahan radikal yang belum pernah terjadi sejak Revolusi 1979.
Reuters melaporkan (29/4), Iran yang selama ini berpusat pada otoritas mutlak seorang ulama di puncak pimpinan, kini bertransformasi dengan dominasi kekuatan militer (Pasukan Garda Revolusi (IRGC) dan militer reguler).
Terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada awal konflik serta pengangkatan putranya, Mojtaba Khamenei, membuka pintu bagi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk memegang kendali penuh atas kebijakan strategis negara.
Meskipun secara formal Mojtaba berada di puncak sistem, perannya kini dianggap lebih sebagai pemberi legitimasi bagi keputusan para jenderal daripada pengambil kebijakan tunggal.
Kondisi Mojtaba sendiri sejauh ini masih misteri, diduga ia terluka parah terkena serangan udara AS/ Ada yang menyebutkan ia dilarikan ke Rusia, namun berita iti tidak bisa diverifikasi. Yang jelas sosoknya tidak pernah tampil di depan publik. Kondisi ini menciptakan perubahan mendasar dalam cara Teheran merespons tekanan internasional.
Pengambilan keputusan lamban
Struktur komando yang sebelumnya berpusat pada Mojtaba, kini terpecah ke dalam konsensus kolektif lembaga keamanan yang membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih lambat dan birokratis.
“Pergeseran ini berdampak langsung pada kecepatan diplomasi Iran, ” ungkap sebuah sumber.
Pejabat senior Pemerintah Pakistan, yang menjadi mediator perundingan damai, mencatat bahwa respons Iran menjadi sangat lambat karena tidak adanya struktur komando tunggal yang tegas.
“Respons Iran sangat lambat. Tampaknya tidak ada struktur komando pengambilan keputusan tunggal.Terkadang, mereka membutuhkan waktu dua hingga tiga hari untuk merespons,” kata pejabat Pakistan seperti dikutip dari Reuters, Selasa (28/4).
Hambatan ini bukan disebabkan oleh perselisihan internal, melainkan kesenjangan tajam antara apa yang siap ditawarkan Washington dan apa yang mampu diterima oleh IRGC.
Di panggung diplomatik, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammed Bagher Ghalibaf memang menjadi wajah perundingan,
Namun, tokoh sentral yang memegang kendali di lapangan sebenarnya adalah komandan IRGC, Ahmad Vahidi.
Dominasi ini memastikan bahwa tidak ada ruang bagi kebijakan moderat, dengan pilihan yang tersedia kini hanyalah antara garis keras atau garis yang lebih keras lagi.
Di tengah blokade ekonomi dan tekanan militer, baik Washington maupun Teheran tampak enggan untuk menunjukkan fleksibilitas.
Mantan diplomat AS, Alan Eyre, menilai bahwa kedua pihak saat ini terjebak dalam perang urat syaraf, ketika kompromi dianggap sebagai bunuh diri politik.
“Kedua pihak tidak ingin bernegosiasi. Bagi keduanya, fleksibilitas akan dianggap sebagai kelemahan,” ujarnya.
IRGC khawatir jika mereka setuju untuk bernegosiasi terkait isu nuklir di awal pembicaraan, mereka akan terlihat tunduk di bawah ancaman AS.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan domestik menjelang pemilihan paruh waktu, yang membuatnya tidak memiliki banyak ruang untuk memberikan konsesi tanpa risiko politik yang besar.
Situasi ini memperkuat posisi IRGC di dalam negeri untuk terus mendorong agenda pertahanan yang agresif dan mengesampingkan suara-suara pragmatis.
Pergeseran ini menandai berakhirnya supremasi ulama tradisional di Iran dan dimulainya era dominasi keamanan.
Kendali Mojtaba Melemah
Para analis melihat Mojtaba Khamenei, meskipun menyandang status sebagai pemimpin tertinggi, pada kenyataannya tidak memiliki kekuatan untuk menentang lembaga yang menjalankan upaya perang.
“Kesepakatan penting mungkin melewati dia, tetapi saya tidak melihat dia akan mengesampingkan Dewan Keamanan Nasional. Bagaimana mungkin dia menentang mereka yang menjalankan upaya perang?” kata analis Arash Azizi.
Perubahan fundamental ini dirangkum dengan tajam oleh mantan negosiator AS, Aaron David Miller.
Menurutnya, Iran kini telah bergeser dari kekuasaan berbasis agama menuju kekuasaan berbasis kekuatan militer murni.
“Dari pengaruh ulama ke pengaruh Korps Garda Revolusi. Beginilah cara Iran diperintah,” jelas dia.
Hingga pekan kesembilan perang, Iran tetap menunjukkan kekompakan yang solid di bawah komando IRGC. Belum ada tanda-tanda perpecahan atau pemberontakan domestik yang berarti.
Hal ini disinyalir menunjukkan mesin keamanan Iran tidak lagi sekadar melaksanakan perang, tetapi telah menjadi otak utama yang menggerakkan arah masa depan negara.
Semua belum jelas, mengingat di tengah peperangan, penguasaan opini, penyesatan dan klaim kemenangan atas lawan hal yang biasa (Reuters/ns)




