JAKARTA, KBKNEWS.id – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei kembali menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar rutinitas sekolah, melainkan fondasi utama dalam membentuk arah bangsa.
Di tahun 2026, makna tersebut terasa semakin relevan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Selama ini, pendidikan sering dipahami sebatas aktivitas di ruang kelas, belajar, ujian, lalu lulus. Padahal, proses belajar sejatinya jauh lebih luas.
Ia hadir dalam keseharian, saat seseorang menghadapi masalah, beradaptasi dengan lingkungan baru, hingga membangun relasi dengan orang lain.
Semua itu adalah bagian dari pendidikan yang membentuk karakter.
Hardiknas sendiri tidak bisa dilepaskan dari sosok Ki Hadjar Dewantara.
Tanggal 2 Mei dipilih untuk menghormati hari kelahirannya, sekaligus mengenang perjuangannya dalam membuka akses pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pada masa kolonial, pendidikan adalah hak yang tidak merata. Hanya kelompok tertentu yang bisa mengenyam bangku sekolah. Ketidakadilan ini mendorong Ki Hadjar Dewantara untuk bersuara lantang menentang sistem tersebut.
Sikap kritisnya membuat ia harus menjalani pengasingan ke Belanda bersama tokoh lain yang dikenal sebagai Tiga Serangkai.
Alih-alih meredup, gagasannya justru semakin matang. Sepulang dari pengasingan, ia mendirikan Taman Siswa pada 1922 sebagai bentuk nyata perjuangan menghadirkan pendidikan yang terbuka bagi semua kalangan.
Konsep pendidikan yang ia bangun tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kemandirian. Filosofinya terangkum dalam tiga semboyan yang masih digunakan hingga kini: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Namun, Hardiknas bukan hanya soal mengenang masa lalu. Ia juga menjadi momen untuk bertanya “sejauh mana pendidikan Indonesia telah berkembang?”
Di era digital, tantangan pendidikan semakin kompleks. Akses informasi memang semakin mudah, tetapi kualitas pembelajaran dan pemerataan pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah.
Tidak hanya itu, sistem pendidikan juga dituntut untuk mampu menyiapkan generasi yang adaptif, kritis, dan memiliki karakter kuat.
Peran pendidikan pun tidak lagi bisa dibebankan pada sekolah semata. Keluarga dan lingkungan memiliki kontribusi besar dalam membentuk cara berpikir dan sikap seseorang.
Bahkan, teknologi yang digunakan sehari-hari kini menjadi “ruang kelas” baru yang tidak terbatas.
Hardiknas 2026 pada akhirnya menempatkan kita di persimpangan antara menjaga nilai-nilai yang diwariskan Ki Hadjar Dewantara dan menjawab tantangan masa depan yang terus berkembang.
Warisan sejarah telah memberi fondasi yang kuat. Kini, tantangannya adalah bagaimana memastikan pendidikan tidak hanya mencetak individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang utuh, yang mampu berpikir merdeka, beradaptasi, dan memberi makna bagi lingkungan sekitarnya.





