JAKARTA, KBKNEWS.id – Puluhan penumpang kapal pesiar MV Hondius kini dipantau otoritas kesehatan di sejumlah negara setelah wabah hantavirus di atas kapal tersebut menewaskan tiga orang.
Pelacakan kontak dilakukan terhadap penumpang yang telah pulang ke negara masing-masing karena masa inkubasi virus dapat berlangsung hingga enam minggu.
Operator kapal Oceanwide Expeditions menyebut 30 penumpang dari sedikitnya 12 negara telah turun dari kapal saat bersandar di Pulau St Helena pada 24 April.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke berbagai negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, Belanda, Swiss, dan Afrika Selatan.
Di Inggris, dua warga yang turun dari kapal dilaporkan menjalani isolasi mandiri secara sukarela meski belum menunjukkan gejala.
Sementara di Amerika Serikat, pejabat kesehatan di Georgia dan Arizona juga memantau tiga penumpang yang kembali dari pelayaran tersebut.
Dilansir BBC, WHO menyatakan lima dari delapan kasus dugaan hantavirus telah terkonfirmasi positif. Tiga orang meninggal dunia, yakni seorang perempuan Belanda berusia 69 tahun, suaminya yang juga warga Belanda, serta seorang perempuan asal Jerman.
WHO juga menegaskan wabah ini bukan awal pandemi baru seperti Covid-19. Epidemiolog WHO Maria van Kerkhove mengatakan penularan hantavirus sangat berbeda dengan virus pernapasan yang mudah menyebar.
“Ini bukan Covid, ini bukan influenza, cara penyebarannya sangat berbeda,” ujarnya dalam konferensi pers.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menyebut risiko kesehatan masyarakat secara global masih rendah. Menurut WHO, galur Andes hantavirus memang dapat menular antarmanusia, tetapi biasanya hanya melalui kontak fisik erat dalam waktu lama.
Kapal pesiar MV Hondius memulai pelayaran dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April dan membawa sekitar 150 penumpang serta awak dari 28 negara. WHO menyebut dua pasien pertama sebelumnya sempat melakukan perjalanan pengamatan burung di Argentina, Chile, dan Uruguay, termasuk ke wilayah habitat tikus pembawa hantavirus.
Hantavirus umumnya menyebar melalui partikel udara yang terkontaminasi urin, air liur, atau kotoran hewan pengerat. Namun para ahli menduga sebagian penularan di kapal terjadi antarsesama penumpang karena mereka berada di ruang tertutup dan melakukan kontak dekat dalam waktu lama.
Gejala penyakit ini biasanya muncul dua hingga empat minggu setelah terpapar virus. Penderitanya dapat mengalami demam, nyeri otot, kelelahan, sesak napas, hingga gangguan pencernaan.
Saat ini MV Hondius masih berlayar menuju Kepulauan Canary, Spanyol. Operator kapal menyebut seluruh penumpang yang tersisa telah menjalani isolasi di atas kapal dan tidak ada lagi yang menunjukkan gejala penyakit.





