WHO Peringatkan 12 Negara Pantau Hantavirus

WHO memperingatkan 12 negara yang warganya jadi penumpag kapal pesiar MV Hondius untuk memantau apakah mreka terpapar hantavirus. (ilustrasi: stok ist)

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan kepada 12 negara untuk memantau dan melacak paparan hantavirus strain Andes terhadap penumpang warganya yang turun dari kapal pesiar MV Hondius.

Langkah ini diambil menyusul temuan wabah hantavirus (strain Andes) yang menginfeksi sejumlah penumpang landa kapal tersebut.

Meski perkembangan wabah diperkirakan akan tetap terbatas, WHO memperingatkan kemungkinan munculnya kasus baru dalam beberapa hari ke depan.

Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan, Kamis (7/5), sejauh ini telah dilaporkan lima kasus terkonfirmasi dan tiga kasus suspek, termasuk tiga orang di antaranya meninggal dunia.

Ia menekankan, masa inkubasi virus strain Andes ini tergolong cukup lama, mencapai enam minggu. Hal inilah yang mendasari kekhawatiran akan munculnya kasus-kasus baru di kemudian hari.

“Mengingat masa inkubasi virus Andes yang bisa mencapai enam minggu, ada kemungkinan lebih banyak kasus akan dilaporkan,” ujar Tedros, dilansir dari Times Now World.

Senada dengan Tedros, Direktur Darurat WHO Abdi Rahman Mahmud menambahkan bahwa wabah ini diprediksi akan tetap “terbatas” selama langkah-langkah kesehatan masyarakat yang kuat dan kerja sama internasional terus dijalankan.

WHO telah menghubungi otoritas kesehatan di 12 negara terkait penumpang yang sempat turun dari kapal saat singgah di Saint Helena.

Indonesia tidak masuk daftar
Berikut daftar 12 negara tersebut: Amerika Serikat, Afrika Selatan, Argentina, Australia, Belanda, Chile, Inggeris, Jerman, Swiss dan Turki dan Uruguay, sementara Indonesia sejauh ini masih aman.

Otoritas kesehatan di negara-negara tersebut kini tengah aktif melakukan pelacakan terhadap para penumpang beserta kontak erat mereka guna memutus rantai penularan.

Kapal pesiar MV Hondius dijadwalkan tiba di lepas pantai Tenerife, Kepulauan Canary, pada Minggu (10/5). Otoritas Spanyol telah menyiapkan operasi besar-besaran untuk mengevaluasi para penumpang dengan tetap menjaga mereka terisolasi dari penduduk setempat.

Bagi penumpang berkebangsaan non-Spanyol, rencananya mereka akan langsung direpatriasi menggunakan pesawat yang telah menunggu, meskipun jika mereka hanya menunjukkan gejala ringan.

Operator kapal, Oceanwide Expeditions, menyatakan bahwa saat ini tidak ada kasus simtomatik baru di atas kapal setelah seorang penumpang yang sakit dievakuasi dan diterbangkan ke Amsterdam pada Kamis lalu.

Wabah hantavirus pertama kali memakan korban pasangan suami istri asal Belanda. Sang suami meninggal di atas kapal pada 11 April, sementara istrinya meninggal kemudian di Afrika Selatan.

Hanta masuk jenis virus RNA untai tunggal berpolaritas negatif, famili ‘bunya viridae’, berbentuk sferikal (bulat) dengan diameter 80 – 120 nanometer, diselubungi membran lipid.

Komponen genomnya terdiri dari tiga segmen RNA (S,M, L) yang mengkode protein nukleokapsid dan glikoprotein permukaan.

Hantavirus pulmonary syndrome gejalanya mirip flu (demam, ,menggigil, nyeri otot dan sakit kepala selama satu sampai delapan minggu setelah terpapar kotoran tikus atau hewan pengerat lainnya.

Gejala lanjutan berlangsung dari empat sampai 10 hari) sesak nafas parah, batuk kering dan paru-paru berisi cairan.

Di Indonesia dilaporkan adanya penyebaran hantavirus di wilayah DI Yogyakarta, NTT dan Sulawesi Utara, namun bukan dari strain Andes.

Namun demikian, berkaca pada penyebaran virus SARS-Cov-2 yang dengan cepat menciptakan pandemi global Covid-19, tindakan mitigasi dan antisipasi harus segera dilakukan. (AFP/Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here