JAKARTA, KBKNEWS.id – Dompet Dhuafa menggelar pemutaran film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale dalam agenda “Malam Jumat Dahsyat” di Ruang Sasana Budaya, Philanthropy Building, Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2026).
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang diskusi mengenai realitas kemiskinan, persoalan sosial-ekologi, hingga situasi masyarakat adat di Papua.
Diskusi menghadirkan Ketua YLBHI Muhammad Isnur, Belgis Habiba dari Greenpeace Indonesia, serta Anita M. Wonda dari Kaum Muda Papua Progresif. Ketiganya membahas dampak perubahan ekosistem dan kebijakan pembangunan terhadap kehidupan masyarakat adat Papua.
Anita menyoroti tekanan yang dirasakan masyarakat Papua, terutama generasi muda dan perempuan. Ia mengaku hidup dalam situasi penuh ketakutan akibat kuatnya kehadiran militer di wilayahnya.
“Sebagai perempuan kami tidak mendapatkan hak bicara, pemerintah datang tidak bicara dengan masyarakat hanya dengan kepala kampung lalu merebut tanah kami,” ujar Anita.
Sementara itu, Belgis Habiba menilai kerusakan hutan di Papua bukan sekadar hilangnya pepohonan, melainkan juga hilangnya identitas dan ruang hidup masyarakat adat.
“Secara nggak langsung ini sebenarnya bukan hutannya yang hilang, tapi kita memusnahkan manusianya, identitasnya, ruang hidupnya,” kata Belgis.
Peserta diskusi mengaku film tersebut membuka mata terhadap dampak proyek pembangunan yang dibungkus sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Salah satu peserta, Lukman Hakim, menyebut film itu membuat publik lebih sadar terhadap situasi yang terjadi di Papua.
General Manager Divisi Advokasi Dompet Dhuafa, Arif R. Haryono, mengatakan forum tersebut digelar untuk memperkuat empati sekaligus memperdalam pemahaman mengenai kondisi masyarakat Papua sebagai bagian dari misi kemanusiaan Dompet Dhuafa ke depan.





