Menapaki Jejak di Al-Azhar: Rumah bagi Puluhan Ribu Penuntut Ilmu Indonesia

KAIRO, KBKNews.id – Kairo tidak hanya dikenal dengan piramidanya yang megah, tetapi juga sebagai mercusuar keilmuan Islam dunia. Di jantung kota ini, berdiri Universitas Al-Azhar, institusi pendidikan yang telah menjadi rumah spiritual dan intelektual bagi sekitar 20.000 mahasiswa Indonesia.

KBKNews berkesempatan mengintip lebih dekat atmosfer kampus dan masjid yang menjadi saksi bisu perjuangan para penuntut ilmu dari Nusantara ini, Senin (11/5/2026).

1. Masjid Al-Azhar: Jantung Intelektual dan Spiritual

 

 

Perjalanan setiap mahasiswa biasanya bermula di Masjid Al-Azhar. Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid ini adalah universitas pertama di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini.

Masjid ini memiliki menara-menara tinggi yang mencakar langit Kairo. Ornamen batu yang detail pada gerbang utamanya mencerminkan kejayaan berbagai dinasti Islam, mulai dari Fatimiyah hingga Ustmaniyah.

Tampak pula mahasiswa belajar dalam sistem Talaqqi. Di sinilah tradisi Talaqqi atau belajar langsung di hadapan syekh tetap terjaga.

Mahasiswa duduk bersimpuh di atas karpet masjid, menyerap ilmu agama langsung dari para ulama besar Al-Azhar.

2. Menjelajahi Kampus

Al-Azhar memiliki banyak gedung fakultas yang tersebar di kawasan Darrasah dan Nasr City. Gedung-gedung ini memiliki ciri khas arsitektur bangunan Kairo yang berwarna cokelat pasir.

Salah satu fakultas favorit mahasiswa Indonesia yakni Fakultas Ushuluddin. Di sinilah mereka mendalami akidah, tafsir, dan hadis. Papan nama fakultas yang menggunakan bahasa Arab klasik menyambut setiap penuntut ilmu dengan hangat.

3. Kehidupan di Sekitar Kampus: Lorong-Lorong Ilmu

Kehidupan mahasiswa Indonesia tidak hanya terbatas di dalam kelas. Mereka hidup membaur di pemukiman sekitar kampus seperti kawasan Darrasah atau Husein.

Lorong-lorong sempit dengan bangunan tua dan kendaraan khas seperti bajaj adalah pemandangan sehari-hari. Di sinilah mereka belajar arti kemandirian dan kesederhanaan.

Di sela-sela jadwal kuliah yang padat, mahasiswa sering berkumpul di kafe-kafe sederhana untuk berdiskusi atau sekadar melepas rindu pada tanah air.

Al-Azhar dikenal dengan manhaj Wasathiyah (moderasi Islam). Hal ini sangat cocok dengan karakter Islam di Indonesia yang toleran dan damai. Tidak heran, lulusan Al-Azhar selalu menempati posisi strategis dalam kehidupan beragama di tanah air, mulai dari menteri, ketua organisasi masyarakat, hingga pengasuh pondok pesantren.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here