Trump Minta Taiwan Tidak Deklarasikan Kemerdekaan

Prsiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi JInping dalam KTT di Beijing 14-15 Mei. Trump meminta Taiwan tidak mendeklarasikan kemerdekaannya dari Tiongkok. (foto: AFP via Ghetty Immages)

PRESIDEN Amerika Donald Trump seusai bertemu Presiden China Xi Jinping memperingatkan Taiwan agar tidak mendeklarasikan kemerdekaannya dari China secara formal.

Dalam wawancara dengan Fox News, Sabtu (16/5) yang dikutip AFP usai lawatan dua harinya ke Beijing, 14 dan 15 Mei, Trump menegaskan dirinya tidak ingin melihat Taiwan memisahkan diri secara resmi dari China daratan atau Tiongkok.

“Saya tidak ingin ada pihak yang mendeklarasikan kemerdekaan. Kita harus menempuh jarak 9.500 mil untuk berperang? Saya tidak menginginkannya ,” kata Trump, dikutip dari AFP, Jumat (15/5).

“Saya ingin mereka (Taiwan dan China-red) tenang. Saya ingin China tenang,” ujarnya.
Trump melanjutkan, pihaknya tidak ingin memicu perang, sehingga jika situasinya tetap (dijaga-red) seperti sekarang ini, menurut dia, China akan “baik-baik saja” (tidak akan menyerang-red).

Menurut catatan, Pemimpin China di berbagai kesempatan menyatakan akan merebut kembali Taiwan yang memisahkan diri saat terjadi perpecahan politik pada 1949. China masih menganggap, Taiwan adalah bagian wilayahnya. Kelompok Partai Kuomintang pimpinan Chang Kai-shek yang terdesak oleh kubu komunis di Cina daratan saat itu melarikan diri ke Taiwan dan membuat pemerintah dalam pengasingan.

Pernyataan itu muncul setelah Xi Jinping dalam pertemuan bilateral dua hari di Beijing, Kamis dan Jumat, memperingatkan Trump bahwa kesalahan langkah terkait Taiwan dapat memicu konflik.

China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan berulang kali menegaskan siap menggunakan kekuatan bila diperlukan untuk mengambil alih pulau tersebut.
Taiwan: Sudah Merdeka

Sementara itu, Presiden Taiwan Lai Ching-te memandang Taiwan telah merdeka secara de facto sehingga deklarasi formal tidak diperlukan.

AS sendiri sejauh ini hanya mengakui Beijing secara diplomatik dengan prinsip “One China Policy” dan tidak mendukung kemerdekaan formal Taiwan, namun, Washington selama ini tetap memasok persenjataan untuk membantu pertahanan Taiwan.

Dalam kunjungannya ke China, Trump juga mengklaim telah mencapai “kesepakatan dagang fantastis” dengan Beijing, meski tidak merinci detailnya.

Salah satu kesepakatan yang diumumkan adalah komitmen awal China membeli 200 pesawat dari Boeing, sebaliknya, China akan membeli minyak dan kedelai asal AS.

“Kami membuat kesepakatan dagang yang fantastis, bagus untuk kedua negara,” kata Trump. Meski demikian, tidak ada pengumuman besar lain terkait kerja sama dagang maupun perpanjangan gencatan senjata di Iran, dan perang tarif antara kedua negara adidaya itu .

Tak ada bantuan militer ke Iran
Dalam isu geopolitik lain, Trump mengaku Xi memastikan China tidak tengah menyiapkan bantuan militer untuk Iran di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.

Trump juga menyebut dirinya gagal membujuk Xi membebaskan aktivis media pro-demokrasi Hong Kong, Jimmy Lai yang disekap oleh rezim Beijing.

“Dia bilang Jimmy Lai adalah persoalan sulit baginya,” kata Trump kepada wartawan.

Lawatan kedua Presiden Trump ke Beijing disorot dunia lantaran dua negara ini kerap bersaing untuk berebut hegemoni global dan saat ini diharap sebagai penengah koflik AS dan Iran.

Presiden Trump kali pertama melawat ke Beijing 8 – 10 Nov. 2017 pada masa jabatan presiden AS pertamanya yang juga disambut Presiden Xi Jinping.

Namun selain retorika, misalnya China tidak akan memasok Iran dengan senjata untuk memerangi AS, dan setuju menjadikan kawasan Selat Hormuz sebagai jalur maritim terbuka, tidak ada komunike tentang langkah kongkrit menuju perdamaian. (AFP/FoxNews/ns)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here