
KAIRO, KBKNews.id – Para pemimpin hak asasi manusia internasional dan aktivis akar rumput menggelar konferensi pers di Zalitan, Libya, Sabtu (16/5/2026). Mereka menegaskan bahwa Gaza tidak sendirian.
Seruan ini dilakukan di tengah pergerakan Konvoi Darat Global Sumud Global Sumud Land Convoy menuju Rafah. Konvoi jalur darat tersebut bergerak bersamaan dengan Global Sumud Flotilla di jalur laut guna menantang blokade ilegal dan agresi yang terus berlangsung di Gaza.

Misi kemanusiaan itu disebut sebagai respons atas situasi darurat di Palestina sekaligus bentuk protes terhadap keterlibatan dan sikap diam sejumlah pemerintah dunia.
Para delegasi menegaskan aksi tersebut merupakan gerakan masyarakat sipil internasional yang tidak dapat dihentikan demi melawan pengepungan ilegal serta pembersihan etnis yang telah berlangsung selama puluhan tahun di wilayah Palestina.
Konvoi darat berbasis masyarakat itu membawa lebih dari 200 peserta dari lebih 25 negara di kawasan Afrika Utara dan berbagai belahan dunia. Armada terdiri atas lebih dari 30 kendaraan, termasuk tujuh ambulans khusus, kendaraan logistik, serta 20 rumah berjalan yang membawa bantuan penting bagi warga Gaza.
Selain bantuan logistik, konvoi juga diperkuat tenaga profesional seperti dokter, perawat, insinyur, dan ahli bangunan yang dipersiapkan untuk membantu pelayanan medis serta pemulihan infrastruktur darurat setibanya di Gaza.
Anggota Komite Pengarah Maghreb Sumud dan GSF, Ahmed Ghaniya, membuka konferensi pers dengan menjelaskan tujuan strategis regional dari inisiatif tersebut. Dia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Libya dan Bulan Sabit Merah Libya atas dukungan penuh yang diberikan kepada rombongan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Sirte.
“Kami berada di sini karena saudara-saudara kami di Gaza sangat membutuhkan bantuan dan keringanan. Kami ingin memastikan dunia terus menyoroti nasib mereka,” ujar Ghaniya.
“Kami berada di jalur yang jelas, dan rute mana pun yang ditentukan untuk kami, kami akan mengikutinya. Tujuan kami satu dan jelas, yakni mencapai Gaza dan menembus blokade.”
Konferensi pers itu juga diwarnai pidato emosional Ahmet Aydan Bekar, aktivis asal Turki yang merupakan veteran pelayaran Mavi Marmara 2010. Bekar, yang selamat setelah ditembak tiga kali oleh pasukan Israel dalam insiden tersebut, menegaskan ancaman bahaya tidak akan menghentikan langkah solidaritas mereka.
Menurut Bekar, kehadiran rombongan internasional itu bertujuan menghentikan penderitaan warga Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan yang menjadi korban serangan. Dia juga menyerukan masyarakat dunia untuk memperkuat dukungan terhadap Gaza dan mendobrak blokade yang dinilai tidak manusiawi.
Sementara itu, anggota Global Sumud Tunisia, Geraldine Ramirez, menyoroti pentingnya posisi strategis Afrika Utara sebagai penghubung antara Afrika, Eropa, dan dunia Arab. Dia juga menyerukan pembebasan kelompok “Sumud 7” yang disebut masih ditahan secara tidak adil di Tunisia.
Di akhir konferensi, Duta Besar Global Sumud sekaligus cucu Nelson Mandela, Chief Nkosi Zwelivelile “Mandla” Mandela, mengaitkan perjuangan Palestina dengan sejarah perlawanan anti-apartheid di Afrika Selatan. Menurut dia, prinsip perjuangan yang menjatuhkan apartheid harus menjadi dorongan moral dunia internasional untuk bertindak membela Palestina.
Mandela mengatakan konvoi tersebut membawa tenaga medis, guru, dan karavan khusus guna mendukung pembangunan kembali sekolah serta klinik di Gaza. Dia menegaskan gerakan solidaritas internasional itu akan terus berjalan hingga Palestina memperoleh kemerdekaan penuh, seluruh tahanan politik dibebaskan, dan para pengungsi Palestina mendapatkan hak kembali ke tanah air mereka.




