China dan Eopa Teliti Fenomena Badai Matahari

China dan Eropa akan meluncurkan wahana antariksa SMILE, Selasa (19/5) untuk meneliti dampak badai matahari. (ilustrasi:ESA)

WAHANA antariksa gabungan Eropa dan China untuk meneliti dampak badai ekstrim serta ledakan plasma raksasa saat matahari menghantam perisai magnetik bumi dijadwalkan akan diluncurkan, Selasa (19/5).

AFP seperti dikutip Kompas.com (19/5) melaporkan, fenomena cuaca antariksa berupa badai Matahari yang dahsyat diketahui dapat merusak satelit komersial, mengancam keselamatan para astronot di orbit, sekaligus memicu kemunculan aurora berwarna-warni di langit lintang utara dan selatan.

Untuk mendalami karakteristik cuaca antariksa yang sejauh ini masih minim dipahami, sebuah wahana antariksa berukuran sebesar mobil van bernama SMILE ditugaskan untuk melakukan pengamatan sinar-X pertama terhadap medan magnet Bumi.

Wahana tersebut rencananya akan mengangkasa menggunakan roket Vega-C dari Pusat Peluncuran Antariksa Eropa di Kourou, Guyana Perancis, sebuah kawasan di pantai timur laut Amerika Selatan.

Agenda peluncuran ini sempat tertunda dari jadwal awal pada 9 April lalu akibat kendala teknis.SMILE, yang merupakan singkatan dari Solar Wind Magnetosphere Ionosphere Link Explorer, adalah proyek kolaborasi strategis antara Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Akademi Ilmu Pengetahuan China.

“Yang ingin kami pelajari dengan SMILE adalah hubungan antara Bumi dan Matahari,” jelas Philippe Escoubet, salah seorang ilmuwan ESA yang terlibat dalam proyek tersebut.

Secara ilmiah, angin surya terbentuk dari aliran partikel bermuatan yang dilontarkan secara konstan oleh Matahari.

Pada momen tertentu, aliran ini dapat berkembang menjadi badai raksasa akibat letusan plasma masif yang dikenal sebagai pelepasan massa koronal.

Bergerak dengan kecepatan mencapai dua juta kilometer per jam, ledakan energi dahsyat ini membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari untuk sampai ke Bumi.

Saat tiba, medan magnet Bumi bertindak layaknya perisai alami yang membelokkan sebagian besar partikel bermuatan tersebut, namun pada fenomena yang sangat intens, partikel surya tetap dapat menembus atmosfer Bumi dan berpotensi melumpuhkan jaringan listrik serta sistem komunikasi global.

Sebagai catatan sejarah, badai geomagnetik terparah yang pernah terdokumentasi pada tahun 1859 sempat memicu kemunculan fenomena aurora hingga ke wilayah selatan Panama.

Dampak buruknya, para operator telegraf di seluruh dunia saat itu dilaporkan tersengat aliran listrik.

Ancaman bagi satelit dan asronot
Di era modern, aktivitas angin surya juga menjadi ancaman serius bagi keselamatan satelit yang mengorbit Bumi serta para astronot yang tengah bertugas di stasiun ruang angkasa.
Lewat misi SMILE, para ilmuwan berharap dapat memprediksi dan mempersiapkan mitigasi yang lebih baik sebelum terjadi ledakan besar di masa depan.

Secara teknis, misi SMILE dirancang untuk mendeteksi pancaran sinar-X yang dihasilkan ketika partikel bermuatan dari Matahari berinteraksi dengan partikel netral di lapisan atas atmosfer Bumi.

Wahana antariksa ini akan mengamati fenomena interaksi antariksa dari sejumlah titik krusial, termasuk area magnetopause—lokasi di mana perisai magnetik Bumi mulai membelokkan partikel matahari.

Menurut Dimitra Koutroumpa dari Institut CNRS Perancis, wahana ini juga akan melintas tepat di atas kawasan kutub Bumi, tempat foton sinar-X paling jelas terlihat.

Berdasarkan rencana operasional pada Selasa nanti, wahana SMILE awalnya akan ditempatkan pada ketinggian 700 kilometer di atas permukaan Bumi sebelum didorong masuk ke orbit yang sangat elips.

SMILE akan berada pada jarak terdekatnya (perigee) sejauh 5.000 kilometer saat melintas di atas Kutub Selatan, di mana data yang direkam akan langsung dipancarkan ke stasiun penelitian Bernardo O’Higgins di Antartika.

Sebaliknya, wahana ini akan mencapai jarak terjauhnya (apogee) hingga 121.000 kilometer di atas Bumi saat berada di atas Kutub Utara.

Posisi ini sengaja dipilih demi mendapatkan sudut pandang pengamatan yang jauh lebih luas dan dalam durasi yang lebih lama.

“Hal ini akan memungkinkan misi tersebut untuk mengamati aurora borealis tanpa henti selama 45 jam berturut-turut untuk pertama kalinya,” tulis keterangan resmi dari pihak ESA.

SMILE dilengkapi dengan empat instrumen ilmiah canggih, termasuk alat pencitra sinar-X buatan Inggris, serta pencitra UV, penganalisis ion, dan magnetometer yang seluruhnya diproduksi oleh Akademi Ilmu Pengetahuan China.

Wahana antariksa ini ditargetkan mulai mengumpulkan data sains hanya dalam waktu satu jam setelah berhasil mencapai orbitnya.

Misi ambisius ini direncanakan berlangsung selama tiga tahun, dengan peluang perpanjangan masa operasional jika seluruh sistem berfungsi optimal. (AFP/Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here