Mengintip Peziarah di Masjid Al-Hussein Kairo

Peziarah di Masjid La Hussein Kairo (Foto: M Fida)

KAIRO, KBKNews.id — Sebagai salah satu pusat spiritual paling penting di jantung kota tua Kairo, Masjid Imam Al-Hussein terus memikat jutaan umat Muslim dari berbagai belahan dunia. Masjid bersejarah yang terletak bersebelahan dengan pasar legendaris Khan El-Khalili.

Masjid ini tidak hanya menawarkan arsitektur megah peninggalan era Fatimiyah dan Mamluk, tetapi juga menjadi tempat pelabuhan rindu bagi para pencinta ahli bait nabi.

Halaman Masjid Al Hussein memiliki payung otomatis (Foto: M Fida)

Memasuki area luar masjid, pemandangan megah langsung tersaji dengan deretan payung raksasa otomatis yang melindungi pelataran marmer dari terik matahari Kairo. Desain payung modern yang dipadukan dengan fasad bangunan batu bertatahkan jendela-jendela tinggi bergaya Gotik-Islam ini memberikan kenyamanan maksimal bagi para jemaah yang ingin beristirahat atau bersiap memasuki ruang utama.

Saat melangkah ke dalam ruang salat utama, suasana tenang langsung terasa. Ruangan yang sangat luas ini ditopang oleh jajaran pilar marmer putih yang kokoh, mengarah pada langit-langit kayu berukir indah khas arsitektur Islam klasik.

Gerbang menuju Makam Hussein (Foto: M Fida)

Lampu-lampu gantung kristal berbentuk lingkaran besar memancarkan cahaya hangat ke seluruh penjuru ruangan, menerangi karpet bermotif biru-putih yang bersih, tempat para jemaah khusyuk beriktikaf, membaca Al-Qur’an, maupun beristirahat.

Daya tarik utama yang selalu ramai dikunjungi adalah ruang Makam (zarih), tempat yang diyakini menjadi lokasi disemayamkannya kepala suci Imam Al-Hussein, cucu tercinta Nabi Muhammad SAW.

Untuk memasuki area sakral ini, jemaah harus melewati pintu marmer berukir indah yang di atasnya terpahat kaligrafi ayat suci Al-Qur’an (Surah Asy-Syura: 23):

“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku selain kasih sayang dalam kekerabatan…”

Di dalam ruang makam, suasana khusyuk begitu kental. Jemaah pria maupun wanita tampak berkerumun di depan dinding pembatas (zarih) yang terbuat dari perak murni dengan lapisan kaligrafi berlapis emas di bagian atasnya.

Banyak di antara mereka yang menempelkan tangan ke jeruji perak sembari memanjatkan doa, bersalawat, hingga meneteskan air mata. Melalui celah jeruji yang berkilau, tampak pemandangan dalam makam yang dihiasi kain beludru hijau bersulam benang emas bertuliskan kalimat tayibah dan untaian doa, lengkap dengan sebuah musyaf Al-Qur’an yang terbuka di depannya.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here