JAKARTA, KBKNEWS.id – Presiden Prabowo Subianto menyoroti kondisi ekonomi nasional saat menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Dalam forum tersebut, Prabowo mempertanyakan kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, karena kelas menengah justru menurun dan angka kemiskinan meningkat.
“Saudara-saudara, saya bertanya di hadapan majlis yang terhormat ini, saya bertanya kepada semua partai politik, semua ormas, saya bertanya kepada semua pakar-pakar dan semua guru besar. Bagaimana bisa pertumbuhan 35 persen tapi kelas menengah menurun, kemiskinan meningkat,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan sistemik dalam pengelolaan ekonomi nasional. Ia menyinggung praktik-praktik seperti under-invoicing, transfer pricing, hingga penyelundupan yang disebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan membuat kekayaan negara terus mengalir ke luar negeri.
“Kita harus berani mengatakan yang merah, merah, yang putih, putih. Kita harus berani mengatakan apa adanya. Kita harus perbaiki lembaga-lembaga pemerintah kita,” ucap Prabowo.
Selain itu, Presiden juga menyoroti penentuan harga komoditas strategis Indonesia yang dinilai masih bergantung pada negara lain. Menurut dia, Indonesia harus memiliki kedaulatan dalam menentukan harga komoditas unggulan nasional seperti kelapa sawit, nikel, emas, dan hasil tambang lainnya.
“Saya tidak mau kelapa sawit kita harganya ditentukan oleh bangsa lain. Kita tentukan harga kita,” ujar Prabowo.
Dalam pidato tersebut, Prabowo menegaskan pemerintah akan terus melakukan pembenahan tata kelola ekonomi dan memperkuat kemandirian nasional agar hasil pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat.





