AS Kirim Sinyal Lanjut Serang Iran

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sedang beratih. Satu juta personil AB Iran dan IRGC siap hadapi serbuan marinir atau Brigade Lintas Udara ke-82 AS (foto: Moeslim voice)

AMERIKA Serikat menyampaikan sinyal untuk melanjutkan perang dengan Iran menyusul ketidakjelasan hasil upaya damai yang dilakukan kedua belah pihak.

Menteri Perang Pete Hegseth menyampaikan sinyal tersebut saat menghadiri KTT Pertahanan di Asia, pada Sabtu (30/5) dengan mnyebut, AS mampu melanjutkan perang dengan Iran jika diperlukan.

“Kami lebih dari mampu, persediaan (persenjataan-red) kami lebih dari cukup untuk itu [perang lagi], baik di sana maupun di seluruh dunia. Kami memiliki stok alutsista canggih dalam jumlah berlimpah, dan kami berada di posisi yang sangat baik” kata Hegseth, dikutip AFP.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menggemakan sikap tersebut dengan menyatakan pasukan AS “tetap hadir dan waspada” di seluruh kawasan Timur Tengah.

Sebeumnya,AS dan Iran, Kamis lalu (28/5) sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan memulai negosiasi soal program nuklir Teheran, namun, proposal itu masih harus disetujui Presiden AS Donald Trump yang bersikeras ingin melucuti program dan persenjataan nuklir Iran.

“Iran harus sepakat, mereka tak akan pernah memiliki senjata atau bom nuklir. Selat Hormuz segera dibuka, tanpa biaya tol, untuk lalu lintas pelayaran tanpa batasan, di kedua sisi,” kata Trump.

Hegseth menambahkan: “Semua ranjau laut, jika ada akan dimusnahkan,”.

Sementara itu Presiden Trump dilaporkan menggelar pertemuan dengan para penasihatnya di Gedung Putih usai negosiasi AS-Iran guna membahas kesepakatan nuklir Iran pada Jumat.

Salah satu sumber yang mengetahui masalah itu mengatakan pertemuan berakhir tanpa keputusan. Dia menyebut Trump hanya ingin Iran tak akan pernah mampu mengembangkan senjata nuklir.

Sejak awal negosiasi, Trump bersikeras, program nuklir Iran harus dilucuti, namun, pihak Iran selalu menolak.

Iran berulang kali menyatakan program nuklir mereka untuk tujuan sipil bukan membuat senjata.

Jubir Kemlu Iran Esmail Baghaei mengatakan, negosiasi terakhir dengan AS fokus untuk mengakhiri perang, sedangkan terkait masalah nuklir, akan dibahas usai konflik betul-betul rampung.

Senada, pemimpin delegasi Iran yang juga ketua DPR Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan tak akan mengambil tindakan lebih jauh.

“Tak akan ada langkah selanjutnya sebelum pihak lain bertindak. Kita tak mendapat konsesi melalui pembicaraan, tetapi melalui rudal,” kata dia.

Jika pecah perang, kemungkinan militer AS akan memanfaatkan superioritas di udara dan laut untuk melakukan serangan terpilih, lalu mendaratkan marinir atau menerjunkan Brigade Lintas Udara ke-82 untuk memutus rantai pertahanan Iran.

Sebaliknya, Iran diperkirakan akan meluncurkan stok rudal-rudal balistik ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di sejumlah wilayah Teluk.

Di darat, sekitar satu juta anggota pasukan reguler Iran dan Korps Garda Revolusi (IRGC) akan berhadapan dengan marinir atau Brigade ke-82 AS yang jumlahnya hanya beberapa ribu orang, namun memiliki “firepower” dan persenjataan yang jauh lebih canggih.
(CNNI/AFP/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here