JAKARTA, KBKNEWS.id – Seorang bocah berinisial MWP (6) sempat mengalami kondisi kritis setelah diduga menjadi korban perundungan di Taman Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat, pada Minggu (7/6).
Korban disebut digotong lalu digesekkan ke tiang listrik hingga tersetrum oleh dua pelaku berinisial R (18) dan L (13).
Ibu korban, Vira (26), mengatakan anaknya langsung dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) setelah kejadian. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, kondisi korban sempat memburuk hingga mengalami kesulitan bernapas dan harus mendapatkan penanganan intensif.
Korban kemudian dirawat di ruang ICU sejak Minggu malam hingga Rabu (10/6). Menurut Vira, anaknya mengalami nyeri kepala berkepanjangan, demam tinggi, serta benjolan di kepala yang diduga akibat benturan dengan tiang listrik saat peristiwa terjadi.
Meski kini telah sadar, korban masih mengalami trauma dan direncanakan menjalani pemeriksaan psikologis setelah kondisi fisiknya membaik.
Vira mengungkapkan perundungan terhadap anaknya bukan kali pertama terjadi. Sebelum kejadian tersebut, korban pernah menjadi sasaran tindakan serupa, seperti sandal yang disembunyikan oleh pelaku.
Ia juga mengaku mendapat informasi bahwa anaknya kerap dipalak oleh pelaku dan diminta memberikan uang agar dapat bermain bersama anak-anak lain di taman.
Saat sadar setelah menjalani perawatan, korban mengaku kepada ibunya bahwa ia dipukul oleh sejumlah teman karena tidak membawa uang.
Menurut pengakuan korban, praktik pemalakan itu telah berlangsung berulang kali dan juga dialami anak-anak lain di lingkungan tersebut.
Meski keluarga pelaku telah meminta maaf dalam proses mediasi yang difasilitasi kepolisian, keluarga korban menolak berdamai. Vira menyatakan keluarganya memilih melanjutkan kasus tersebut ke jalur hukum karena menilai dampak yang dialami korban sangat serius.
Vira juga membantah informasi yang menyebut anaknya merupakan penyandang autisme. Ia menjelaskan bahwa putranya memiliki kondisi ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang membuatnya lebih aktif dibanding anak seusianya, namun tetap dapat beraktivitas secara normal.





