
JAKARTA – (KBKNEWS) 17/8 – KEPALA Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman menilai, para pelaku yang membuat kericuhan pada peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di Banda Aceh (158) hanyalah segelintir oknum masyarakat saja.
Dudung menduga ada yang memanfaatkan momentum Hari Damai Aceh tersebut untuk membuat kericuhan dan kegaduhan.
“Saya kira itu hanya oknum-oknum saja. Rakyat Aceh adalah bagian NKRI. Para pelaku cuma memanfaatkan situasi. Tanggal 15 Agustus kan memang hari perdamaian ya, cuman ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan. Hanya segelintir aja,” ujar Dudung di Istana, Jakarta, Senin (17/8/2026). “Segelintir oknum saja,” sambungnya.
Menurut Dudung, saat ini situasi di Aceh sudah kembali kondusif dan menyebutkan, bendera Merah Putih sudah berkibar kembali.
“Kondusif sudah, kan tidak lama terus kemudian merah putih berkibar lagi,” imbuh Dudung.
Sangat disayangkan , peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh di Banda Aceh, Sabtu (15/8), diwarnai kericuhan, padahal peringatan Hari Damai ini seharusnya menjadi momentum untuk mengenang berakhirnya konflik.
Kericuhan bermula ketika sebagian massa dari sejumlah elemen masyarakat hendak memasang bendera bintang bulan pada salah satu tiang di kompleks Masjid Raya Baiturrahman.
Sementara aparat TNI yang berjaga di sekitar pagar masjid melarang pemasangan bendera tersebut. Larangan kemudian diikuti beberapa kali tembakan peringatan yang dilepaskan ke udara.
Suara tembakan membuat massa yang berada di halaman masjid spontan tiarap.Dari situ bentrokan antara warga dan aparat pun terjadi.
Situasi menjadi semakin memanas setelah sebagian massa meluapkan kemarahan kepada aparat TNI. Massa lantas bergerak mengejar personel TNI yang berada di sekitar masjid.
Mereka bergerak hingga ke depan Gedung DPRK Banda Aceh, sementara sebagian lainnya berlari menuju lampu Simpang Kodim.
Dalam pengejaran, massa melempari aparat dengan batu dan sejumlah benda lainnya. Bentrokan mulai mereda setelah personel TNI menjauh dari kejaran massa.
Meski kericuhan mereda, massa masih bertahan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Mereka menyampaikan protes atas larangan pengibaran benderanya.
Massa juga membakar satu unit sepeda motor milik aparat TNI yang diparkir di area masjid.
Salah seorang peserta aksi dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami luka di bagian kepala.
Semoga kembali kondusif
Sementara itu, Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra berharap situasi di Aceh sudah kembali kondusif. Yusril menekankan agar semua pihak menjaga ketentraman.
“Mudah-mudahan suasana di Aceh sudah kondusif dan semua pihak menjaga ketenangan, ketentraman, dan kedamaian,” ujar Yusril di Istana, Jakarta, Senin (17/8).
Yusril menyampaikan, pemerintah menghormati semua elemen masyarakat Aceh yang sama-sama mencintai NKRI.
Dia memastikan pemerintah terus bekerja sama dalam mengatasi kekurangan yang ada.
“Tentu juga kita akan bekerja bersama-sama mengatasi berbagai kekurangan yang terdapat di dalam masyarakat yang menjadi tugas kita bersama untuk perbaiki keadaan,” imbuhnya.
Kericuhan bermula ketika sebagian massa dari sejumlah elemen masyarakat hendak memasang bendera bintang bulan pada salah satu tiang di kompleks Masjid Raya Baiturrahman.
Sementara aparat TNI yang berjaga di sekitar pagar masjid melarang pemasangan bendera tersebut. Larangan kemudian diikuti beberapa kali tembakan peringatan yang dilepaskan ke udara. Suara tembakan membuat massa yang berada di halaman masjid spontan tiarap dan kemudian bentrokan antara warga dan aparat pun terjadi.
Situasi menjadi semakin memanas setelah sebagian massa meluapkan kemarahan kepada aparat TNI. Massa lantas bergerak mengejar personel TNI yang berada di sekitar masjid.
Eskalasi kerusuhan di provinsi terujung Barat NKRI tersebut harus dicegah dengan pendekatan persuasif, sehingga jangan sampai, luka-luka lama meruyak kembali. (kompas.com/ns)




