Asma Berat Kambuh karena Kedinginan, Pengungsi Gempa Nagekeo NTT Meninggal

Ilustrasi tenda pengungsi gempa NTT/ foto: Fikri Yusuf/ Antara Foto

JAKARTA, KBKNEWS.id – Seorang pengungsi gempa di Desa Kotagana, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia setelah beberapa hari tinggal di tenda pengungsian.

Korban bernama Petrus Liwa (64). Ia meninggal pada Senin (24/8/2026) sekitar pukul 07.00 WITA setelah sempat menjalani perawatan di Puskesmas Mauponggo.

Ilustrasi tenda pengungsi gempa NTT/ foto: Fikri Yusuf/ Antara Foto

Kepala Desa Kotagana, Siprianus Peu, mengatakan kondisi kesehatan Petrus memburuk setelah beberapa hari berada di pengungsian. Petrus diketahui memiliki riwayat penyakit asma berat.

Menurut Siprianus, kondisi udara yang sangat dingin di lokasi pengungsian membuat penyakit asma Petrus kambuh. Ia kemudian dirujuk ke Puskesmas Mauponggo pada Minggu (23/8/2026).

Namun, setelah hanya sehari menjalani perawatan, kondisi Petrus semakin memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.

“Ia terbawa penyakit asma berat lalu dengan peristiwa gempa kemarin, udara sangat dingin lalu kambuh, dia meninggal jam 07.00 pagi ini,” ujar Siprianus, Senin.

Sebelumnya, BNPB mencatat jumlah korban meninggal akibat gempa di NTT mencapai 91 orang. Selain korban jiwa, sebanyak 1.286 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Jumlah warga yang mengungsi juga telah mencapai 156.782 orang. Mereka tersebar di sejumlah kabupaten, antara lain Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.

Korban meninggal terbanyak tercatat di Kabupaten Manggarai sebanyak 32 orang dan Manggarai Timur 31 orang. Sementara itu, Nagekeo mencatat 14 korban meninggal, disusul Sikka enam orang, Ngada lima orang, Ende dua orang, dan Manggarai Barat satu orang.

BNPB juga mencatat sebanyak 58.360 rumah mengalami kerusakan akibat gempa. Kerusakan tersebut belum termasuk fasilitas pendidikan, rumah ibadah, fasilitas kesehatan, serta fasilitas publik lainnya.

Di tengah kondisi pengungsian, kebutuhan dasar warga masih menjadi perhatian. Sejumlah pengungsi masih membutuhkan air bersih, makanan, terpal, tikar, dan selimut.

“Kami membutuhkan terpal, air minum, tikar, dan selimut,” kata Fransiskus Bhaga, warga Desa Tuanggeo, Kabupaten Sikka, di Pulau Palue, Minggu.

Hingga kini, wilayah NTT juga masih diguncang gempa susulan. Data terakhir mencatat lebih dari 5.000 gempa susulan terjadi setelah gempa utama.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here