Kesepakatan AS dan Saudi Kembangkan Nuklir Tuai Kritik

JAKARTA – (KBKNEWS) – 3/9 – KESEPAKATAN kerjasama antara pemerintah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Arab Saudi untuk mengembangkan program nuklir sipil menuai kritik karena dinilai belum cukup mencegah risiko proliferasi nuklir.

Dokumen kesepakatan yang baru dibagikan kepada anggota parlemen AS,  menunjukkan adanya jalur yang pada akhirnya dapat memungkinkan Arab Saudi memperkaya uranium di wilayahnya sendiri.

Tingkat pengayaan itu seperti dilaporkan the Wall Street Journal, Selasa (2/9)  bahkan dapat mendekati 20 persen setelah melalui serangkaian konsultasi dan kajian lebih lanjut.

Gempar Dokumen tersebut dibagikan kepada anggota Kongres pada pekan lalu bersama sejumlah dokumen terkait.

Kesepakatan itu memang tak langsung memberikan lampu hijau bagi Arab Saudi untuk melakukan pengayaan uranium, tetapi menetapkan tahapan yang dapat mengarah pada pembangunan fasilitas pengayaan dalam beberapa tahun ke depan.

Tingkat pengayaan mendekati 20 persen disebut dapat dibutuhkan untuk memasok bahan bakar bagi reaktor nuklir sipil modular berukuran kecil.

Namun, tingkat pengayaan tersebut juga meningkatkan kekhawatiran bahwa material nuklir dapat dialihkan untuk keperluan militer jika tidak disertai pengawasan dan pengamanan yang ketat.

Scott Roecker, mantan pejabat Departemen Energi AS yang kini menjabat wakil presiden Nuclear Threat Initiative, mengatakan terdapat alasan sipil untuk melakukan pengayaan pada tingkat tersebut.

Makin dekat untuk kembangkan nuklir

Namun, menurut Roecker, uranium yang diperkaya hingga level itu sudah semakin dekat dengan material yang dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.

“Pada tingkat pengayaan tersebut, sebagian besar pekerjaan untuk menghasilkan material setingkat senjata sudah dilakukan,” kata Roecker.

Karena itu, ia menilai penting untuk memastikan keberadaan material tersebut dapat diketahui secara tepat dan tetap berada dalam pengawasan ketat.

Pernyataan Trump dipertanyakan Sebelumnya, Trump mengatakan kesepakatan itu tidak akan mengizinkan pengayaan uranium di Arab Saudi.

Tidak lama setelah pejabat AS dan Saudi menandatangani kesepakatan nuklir tersebut, Trump melalui unggahan di media sosial pada 23 Juli mengatakan bahwa “tidak akan ada pengayaan material” berdasarkan kesepakatan itu.

Namun, Trump juga menandatangani memo kepada para pembantu seniornya pada Juli yang mendukung kesepakatan tersebut sekaligus mengakui adanya kemungkinan jalur menuju pengayaan.

Kesepakatan itu menetapkan bahwa AS dan Arab Saudi akan menjalankan “Joint Enrichment and Conversion Study” dalam waktu dua tahun.

Peninjauan tersebut akan mengevaluasi kelayakan ekonomi pengayaan uranium serta pengaturan yang diperlukan untuk mencegah risiko proliferasi.

Selama masa peninjauan, Arab Saudi dapat membeli reaktor nuklir, tetapi kegiatan pengayaan uranium tetap dilarang.

Senjata nuklir bisa memusnahkan peradaban manusia sehingga wajar jika muncul kecemasan jika penguasannya bisa mengarah pada pembuatan alat pembunuh massal ersebut. (AWS/ns)

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here