JAKARTA, KBK – Para imigran asal Yaman yang kini tengah menunggu proses pemberangkatan ke negara tujuan keberadaannya mulai diterima masyarakat Ciputat.
N (40) salah satu imigran yang mendiami sebuah rumah kontrakan di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, mengatakan bahwa selama di persinggahan dirinya tidak pernah diusik, bahkan lama kelamaan keberadaannya diterima oleh masyarakat.
“Warga sini tidak ada masalah, mereka menerima kehadiran saya. Indonesia itu bagus,” ucap N yang juga mengaku belum tahu akan menetap di negara mana, Senin,(22/08/16).
Dalam persinggahannya di Ciputat N bersama 6 anggota kelurganya yang sebagian besar masih anak-anak lebih banyak menghabiskan kesehariannya di dalam rumah. N merupakan warga negara Somalia yang telah 25 tahun tinggal di Yaman dan mulai menjadi imigran sejak Yaman dilanda perang Maret 2015 lalu, kini dalam singgahnya mereka difasilitasi oleh Church Word Service (CWS).
Kendati warga masyarakat menerima kehadiran mereka, tak lantas NB anak laki-laki N bisa mengakses pendidikan. NB (14) mengatakan bahwa dirinya tidak bisa bersekolah karena bukan seorang WNI.
“Pihak sekolah melarang saya, jadi saya tidak bisa sekolah karena bukan orang Indonesia,” kata NB yang telah tinggal di Ciputat sejak 1 tahun lalu.
N dan NB berharap, UNHCR bisa segera mengakomodasi pendidikan anak-anak imigran dan segera menempatkan mereka ke negara tujuan.
Devi warga Ciputat yang kontrakannya bersebelahan dengan N mengaku tak terganggu dengan kehadiran mereka, menurut Devi orang-orang Somalia itu karakternya justru lebih ramah dari pada orang Indonesia.
“Mereka sehari-hari kebanyakan didalam rumah, tapi mereka sopan dan selalu melempar senyum ke para tetangga. saya sama sekali tidak merasa terganggu,” ucap Devi.





