JAKARTA, KBKNEWS.id — Supra Setio, pemuda asal OKU Timur, Sumatra Selatan, punya satu tekad besar dalam hidupnya. Ia ingin mengubah nasib lewat kerja keras dan keterampilan yang ia kuasai. Namun, perjalanan anak seorang petani sederhana ini sama sekali tidak mudah untuk dilalui.
Tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi, Supra meyakini satu hal sejak awal. Baginya, keterampilan atau skill adalah kunci utama membuka peluang kerja lebih baik. Ketertarikannya pada dunia penataan rambut pun lambat laun tumbuh menjadi cita-cita besar. Ia ingin menguasai seni memotong rambut secara profesional dan mumpuni.
Namun, niat merantau ke Yogyakarta sempat terganjal restu sang ayah. Sang ayah khawatir dengan kesiapan Supra menghadapi ketidakpastian di tanah rantau. Meski begitu, Supra tak patah arang menghadapi keraguan orang tuanya.
Ia memilih membuktikan kesungguhan niatnya lewat aksi nyata, bukan sekadar kata. “Jika kamu memiliki keinginan, bekerjalah keras untuk mewujudkannya. Jangan patah semangat, karena selalu ada jalan untuk setiap ketekunan dan keuletan,” ungkap Supra mantap.
Setiap hari, Supra mengambil berbagai pekerjaan serabutan di kampung halamannya. Rupiah demi rupiah dikumpulkan dengan telaten dan penuh kesabaran. Hingga akhirnya, ongkos perjalanan Sumatra–Yogyakarta pun berhasil ia genggam.
Setibanya di Kota Gudeg, tantangan baru justru kembali menghadang langkahnya. Biaya kursus memotong rambut profesional ternyata jauh melampaui sisa tabungannya. Di tengah jalan buntu itu, takdir mempertemukannya dengan sebuah informasi penting. Ia menemukan Program Beasiswa Pelatihan Barber dari Institut Kemandirian (IK).
IK merupakan organ lembaga Dompet Dhuafa yang fokus pada pelatihan vokasi. Lembaga ini juga berperan aktif dalam program pemberdayaan masyarakat kurang mampu. Tanpa ragu, Supra langsung mendaftarkan diri mengikuti seleksi program tersebut.
Ia mengikuti seluruh tahapan seleksi dengan penuh kesungguhan dan kerja keras. Usaha itu pun membuahkan hasil manis yang selama ini ia perjuangkan. Supra dinyatakan lolos sebagai salah satu penerima manfaat beasiswa penuh. Selama dua bulan masa pelatihan intensif, perjuangan Supra benar-benar diuji. Fisik dan mentalnya ditempa dalam proses belajar yang tidak ringan.
Belum memiliki penghasilan tetap, ia harus pandai memutar otak setiap hari. Supra berhemat sedemikian rupa agar uang sakunya cukup untuk bertahan hidup. Semua kesulitan itu ia simpan rapat-rapat seorang diri. Ia tak ingin membebani pikiran orang tuanya yang jauh di kampung.
Di bawah bimbingan instruktur profesional Institut Kemandirian, Supra terus digembleng. Pelatihan itu tak hanya soal teknik memotong rambut semata. Ia juga dibentuk karakternya, mulai dari etika hingga pelayanan pelanggan. Materi manajemen bisnis barber pun turut diajarkan secara menyeluruh.
Iktikad kuat dan disiplin tinggi akhirnya berbuah manis. Segera setelah dinyatakan lulus dari Institut Kemandirian, keterampilan Supra langsung dilirik dan diterima bekerja di Arfa Barber Parangtritis, Yogyakarta. Kini, ia telah memiliki penghasilan tetap mandiri dan mampu menyokong kehidupannya di perantauan.- Dompet Dhuafa





